Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Open Source Lebih Menjanjikan
Netware Bukan Prioritas Pertama Novell Lagi
Open Source Lebih Menjanjikan

Netware Bukan Prioritas Pertama Novell Lagi


- detikInet

Jakarta - General Manager ASEAN South Novell Ernest Low, mengatakan Novell lebih fokus pada SuSE dibanding dengan produk mereka sebelumnya, Netware yang membutuhkan lisensi. Bahkan Netware perlahan-lahan akan mengarah ke GPL (lisensi untuk umum-red)."Nampaknya ada gambaran ke arah sana. Tergantung mana yang lebih menguntungkan," ujarnya kepada detikinet seusai acara penunjukkan Matanai sebagai Platinum Solution Partner Novell dan Gold Training Partner di Hotel Interkontinental MidPlaza Jakarta, Jumat (23/9/2005). "Pertumbuhan Netware kurang menggembirakan, sangat lambat. Kita sekarang lebih fokus ke SuSE," tambahnya.Menurutnya saat ini, salah satu alasan Novell mempertahankan Netware ialah karena demi menjaga pelanggan terdahulunya. Sedangkan dengan SuSE, lanjutnya, jumlah pelanggan dan keuntungan meningkat secara eksponensial."Linux akan meningkat secara eksponensial pada enterprise (perusahaan besar-red), asal ada support lebih pada fungsi bisnis yang critical," jelasnya. Low mengklaim, 80 persen linux mainframe berjalan pada sistim yang menggunakan Linux SuSE.Lagipula menurut Low, saat ini pengadopsian Linux menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat di dunia termasuk di Indonesia. Bahkan menurutnya, pertumbuhan rata-rata pengadopsian Linux di Indonesia adalah sebesar 90 persen pertahunnya."Pertumbuhan Indonesia dalam pengadopsian open source Linux sangat mengagumkan, dan masih akan berkembang terus," ujarnya.Novell masuk ke sistim operasi berbasis open source sejak 2 tahun yang lalu dengan mengakuisisi SuSE. Dari sebelum dan sesudah akuisisi, menurut Low, pengguna SuSE secara global saat ini sudah mencapai 15 juta pengguna.Technical Director Matanai Fransiscus D.A. juga turut membenarkan pernyataan Low. "Menyambung pernyataan Low, kita sebagai negara yang suka membeli produk proprietary (berlisensi-red), seharusnya memproduksi sendiri open source Linux yang bebas lisensi. Jadi investasi pemerintah bisa dialihkan ke human resources," ujarnya.Menurut Frans, strategi untuk mengembangkan Linux seharusnya dengan mengadopsi teknologi distro Linux yang sudah mature, seperti Redhat, SuSE Novell, atau FreeBSD."Dari situ kita baru mengedukasi masyarakat untuk mengembangkan Linux dan developer-developer," paparnya. "Tapi masalahnya, siapa yang sanggup untuk mensuport itu?"Hal tersebut bisa jadi pertanyaan bagi pemerintah Indonesia tentang sejauh mana kesungguhan mereka pada program Indonesia Goes to Open Source (IGOS). Jangan sampai program itu hanya jadi euforia belaka.Novell Tunjuk Matanai Jadi Platinum Solusi PartnerNovell menunjuk Matanai sebagai Platinum Solution Partner dan Gold Training Partner. Matanai menjadi satu-satunya mitra Novell yang mendapatkan predikat Platinum."Matanai akan menangani support solution untuk existing customer Novell dan calon pelanggan," kata Low.Kemitraan itu dimaksudkan untuk memperkuat kerjasama antara Novell dan Matanai sebagai mitra lokal dalam meningkatkan pengadopsian Linux di Indonesia dengan menyediakan solusi dukungan dan layanan berbasis Linux Enterprise. (rouzni/)





Hide Ads