Minggu, 02 Des 2018 11:48 WIB

23 Tahun Microsoft di Indonesia

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
(ki-ka) Galib Machri (Direktur PT Kreatif Dinamika Integrasi), Andrea Della Mattea (President Director Microsoft Asia Pacific), Pandji Choesin (Direktur Departemen TI INASGOC), Haris Izmee (President Director Microsoft Indonesia). Foto: Microsoft (ki-ka) Galib Machri (Direktur PT Kreatif Dinamika Integrasi), Andrea Della Mattea (President Director Microsoft Asia Pacific), Pandji Choesin (Direktur Departemen TI INASGOC), Haris Izmee (President Director Microsoft Indonesia). Foto: Microsoft
Jakarta - Tahun ini, Microsoft sudah beroperasi di Tanah Air selama lebih dari 23 tahun. Kini, mereka tak sekadar menghadirkan sistem operasi maupun konsol game di sini. Cloud jadi salah satu fokus mereka saat ini.

Haris Izmee, President Director Microsoft Indonesia, mengatakan bahwa secara global Microsoft sudah berinvestasi lebih dari USD 15 miliar untuk infrastruktur cloud computing. Selain itu, mereka juga menggelontorkan lebih dari USD 1 miliar per tahun untuk cybersecurity.

Di Indonesia sendiri, Microsoft sudah memberikan layanan cloud di selama lebih dari enam tahun. Yang terhangat dari sektor ini adalah munculnya teknologi hybrid cloud dalam diri Azure Stack, perpanjangan dari Microsoft Azure yang merupakan layanan cloud mereka.


Layanan ini sudah masuk ke Indonesia sejak tahun lalu. Perannya pun sudah terlihat dalam gelaran Asian Games 2018 lalu. Ya, Indonesia jadi negara pertama yang menyelenggarakan Asian Games berbasis cloud. Hal tersebut diungkapkan oleh Galib Machri, Direktur PT Kreatif Dinamika Integrasi.

Perusahaan tersebut bertanggung jawab dalam mengimplementasi Microsoft Azure di Asian Games. Lantas, apa fungsi dari teknologi cloud dan hybrid cloud di gelaran empat tahunan tersebut?


Tonton video: Google Hangouts akan Pensiun 2020?

[Gambas:Video 20detik]



"ID, paspor, disimpan di Azure Stack, tidak ada yang dipublish di cloud. Semuanya terenkripsi. Semuanya aman. Kalau performa atlet ada di cloud," ujarnya saat ditemui dalam sebuah kesempatan.

"Ini merupakan Asian Games pertama yang berbasis cloud. Tidak ada yang memiliki kapabiitas dalam memegang kendali terhadap data sebesar itu dalam ajang sebesar ini. Tapi sekarang Indonesia boleh berbangga sebagai negara yang sudah berpengalaman untuk melakukan hal tersebut," tuturnya menambahkan.


Dalam implementasinya, teknologi cloud ini melewati stress test untuk menguji kemampuannya ketika traffic sedang tinggi-tingginya. Hal tersebut dilakukan dengan membuat 2000 concurrent user mengakses aplikasi yang sama secara berbarengan, sebagaimana diucapkan oleh Direktur Departemen TI INASGOC, Pandji Choesin.

Selain itu, keamanannya pun juga memiliki sejumlah lapisan. Salah satunya proteksi pada DDoS. Tony Seno, National Technology Officer Microsoft Indonesia, mengatakan bahwa ada sejumlah percobaan penyerangan terhadap DDoS pada Asian Games 2018 supaya layanannya mati.


Selain menggarap teknologi cloud, Microsoft juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk melatih 1.000 murid mengenai cybersecurity, cloud, kecerdasan buatan, dan data science. Program bertajuk Digital Talent Scholarship itu rencananya akan menggelar acara wisuda bagi para peserta pada Desember ini.

Menteri Kominfo Rudiantara dalam pernyataan resminya di situs Kominfo mengatakan bahwa tahun depan kuotanya akan ditambah menjadi 20.000.

Program ini sendiri bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam mendukung transformasi digital di Indonesia menuju Industri 4.0 serta peningkatan ekonomi digital.


23 Tahun Microsoft di Indonesia
(jsn/jsn)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed