Sabtu, 22 Sep 2018 20:00 WIB

Sering Dipakai ISIS, Begini Nasib Bitcoin di Masa Depan

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: BBC Magazine Foto: BBC Magazine
Jakarta - Walau kerap dibilang mata uang masa depan, Bitcoin juga tak jarang dianggap mendukung berbagai kejahatan di dunia, salah satunya adalah terorisme.

Sejak kemunculannya pada 2009 lalu, Bitcoin kerap mendapat komentar negatif. Sifat anonim yang dimilikinya membuat mata uang virtual tersebut akrab dengan kegiatan penipuan, pencucian uang, dan kegiatan kriminal lainnya.

Bahkan, cryptocurrency paling populer tersebut juga kerap digunakan oleh para pelaku terorisme. ISIS jadi salah satu penggunanya.



Hal tersebut disebutkan oleh Marshall Billingslea, Presiden Financial Action Task Force (FATF), lembaga yang fokus dalam melawan kegiatan pencucian uang. Menurutnya, ISIS telah menggunakan Bitcoin dan cryptocurrency lainnya untuk mendanai terorisme di Suriah.

Malahan, aktivitas tersebut tidak hanya terjadi di dalam Suriah saja. Pada akhir tahun lalu, seorang perempuan di New York, Amerika Serikat, ditahan setelah melakukan pencucian uang melalui mata uang virtual ini dan mengirim uang untuk membantu ISIS.

Wanita bernama Zoobia Shahnaz disebut mengambil pinjaman tidak sah sebesar USD 85 ribu atau senilai Rp 1,15 miliar saat itu. Uang tersebut digunakannya untuk membeli Bitcoin secara online.

Saat ini, pemerintah dari berbagai negara memang memberikan perhatian khusus terhadap Bitcoin dan cryptocurrency lain, serta teknologi blockchain yang melatarbelakanginya. Korea Selatan dan China, misalnya, sudah mulai mengatur mata uang virtual secara hukum.



Sedangkan sejumlah negara Eropa, seperti Prancis dan Swiss, mulai menggodok aturan terkait dengan bisnis Bitcoin. Walau begitu, tak sedikit pula negara yang malah memblokir penggunaan mata uang virtual ini.

Terkait dengan hal tersebut, Billingslea mengatakan bahwa pihaknya akan menetapkan sejumlah standar terhadap penggunaan Bitcoin dan mata uang virtual lainnya, terutama yang berkaitan dengan pencucian uang. Hal tersebut diharapkan dapat mempersulit ISIS dan organisasi sejenis lainnya untuk menggunakan cryptocurrency.

Rencananya, FATF akan menetapkan aturan tersebut pada Oktober mendatang, sebagaimana detikINET kutip dari Forbes, Sabtu (22/9/2018). Menarik untuk ditunggu bagaimana standar tersebut dapat meregulasi Bitcoin dan cryptocurrency lainnya di seluruh dunia. (agt/jsn)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed