Senin, 10 Sep 2018 17:44 WIB

Mundurnya Uber Bikin Grab Kuasai Indonesia

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Rifkianto Nugroho Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Asia menjadi pasar utama layanan ride hailing. Banyak perusahaan mengalami kesuksesan, tapi ada pula yang tumbang karena sengitnya persaingan.

Uber
adalah contoh yang tidak bertahan. Perusahaan ride hailing ini telah berjuang keras di pasar Asia. Hanya saja, mereka terpaksa menghentikan operasionalnya di China dan Asia Tenggara.

Kendati begitu, menurut hasil riset ABI Research, penghentian operasional di China dan Asia Tenggara telah membantu menciptakan peluang tambahan bagi para pemain lokal karena mereka berkembang dan membangun bisnisnya baik di wilayah tersebut maupun secara global.



Contoh kesuksesan ini diperlihatkan Didi Chuxing, perusahaan ride sharing asal China. Mereka sukses membangun posisi pasar terdepan di kampung halamannya. Alhasil, mereka kini punya market share 90% di China.

Hal yang sama juga terjadi di Asia Tenggara. Pemain di kawasan ini, yakni Go-Jek dan Grab, telah menggunakan momen hengkangnya Uber untuk meningkatkan investasi dan ekspansi ke sejumlah wilayah.

"Pasar Asia Tenggara pernah diramaikan dengan kompetisi antara tiga perusahaan, Uber, Go-Jek dan Grab. Namun, dengan pangsa pasar yang mengalami penurunan secara perlahan di wilayah tersebut, Uber memutuskan untuk menarik diri dari pasar dan menjual asetnya ke Grab. Grab menggunakan investasi agresif selama 2017 dan akusisi operasional Uber di wilayah Asia Tenggara untuk mengembangkan posisinya di kawasan ini," papar Shiv Patel, analis riset dari ABI Research dalam keterangan resminya.

Patel kemudian juga mengungkap kondisi pasar ride hailing di Indonesia. Pada awal 2017, Go-Jek berhasil memimpin pasar di Tanah Air dengan pangsa pasar 58%, sementara Grab hanya 20%. Tapi kondisi itu sedikit berubah pada akhir Juni 2018, Grab punya pangsa pasar 62%.

"Peningkatan ini merupakan dampak langsung dari investasi dan ekspansi yang agresif di Indonesia selama 2017 yang selanjutnya dibantu oleh akuisisi bisnis Uber di wilayah ini pada 2018," kata Patel.



Kendati telah menyerah di China dan Asia Tenggara, Uber masih punya pasar kuat di India yang merupakan pasar ride hailing ketiga terbesar di dunia. Di sana, Uber masih memiliki 46% pangsa pasar di negara tersebut, menyusul rival lokal Ola Cabs.

"Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan industri ride hailing mengalami pertumbuhan dengan kecepatan luar biasa dan Asia menjadi pasar utamanya. Keluarnya Uber dari beberapa pasar di Asia akan menjadi pil pahit bagi mereka," pungkas Patel. (afr/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed