Jumat, 27 Apr 2018 22:22 WIB

Ajang Blockchain di Jakarta Banjir Peminat

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Blockchain Indo 2018 akan digelar di Jakarta 11-12 Mei Foto: Blockchain Indo 2018 akan digelar di Jakarta 11-12 Mei
Jakarta - Ajang konferensi dan pameran Blockchain Indo 2018 yang akan diselenggarakan di Jakarta, diklaim oleh sang penyelenggaranya banjir peminat. Acara ini akan digelar pada 11-12 Mei 2018 di Hotel Kempinski, Jakarta.

"Kami menerima banyak minat dari para peserta dari perusahaan teknologi yang kebanyakan adalah perusahaan Blockchain, Fintech dan Digital Asset dari seluruh dunia, termasuk Indonesia," kata Nikolay Volosyankov, CEO Cryptoevent, Jumat (27/4/2018).

Menurutnya, banyak pembicara terkemuka dari seluruh dunia yang telah mengonfirmasikan kehadirannya, di antaranya adalah Gebhard Scherrer (co-founder DATUM), Ville Oehman (praktisi dana investasi yang terdaftar di Otoritas Moneter Singapura), Matthew J. Martin (CEO Blossom Finance), Robert Ryu (Korean Venture crypto-fund ) dan Dr Zaharuddin AR (ICO berbasis syariah asal Malaysia).

"Untuk pertama kalinya dalam konferensi yang pernah kami selenggarakan, kami memiliki pembicara dan peserta pameran yang terkait dengan keuangan Islami," lanjut Nikolay.



Cryptoevent sebelumnya telah menyelenggarakan konferensi serupa di St. Petersburg, Moskow (Rusia), Minsk (Belarus) dan Almaty (Kazakhstan) di mana ribuan peserta telah berpartisipasi untuk mengejar isu-isu terbaru dan teknologi baru di Blockchain, Digital Asset dan Fintech.

Selain bekerjasama dengan berbagai mitra internasional, dalam konferensi ini CryptoEvent juga bermitra dengan perusahaan lokal yaitu Global Citra Media sebagai penyelenggara acara lokal.

CryptoEvent juga menggandeng Halojasa sebagai mitra pemasaran lokal dan juga Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) yang memungkinakan para pemain global dalam teknologi Blockchain untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang dari Asia Tenggara terutama Indonesia.



Bari Arijono, pendiri dan CEO Digital Enterprise Indonesia, mengatakan bahwa revolusi digital di Indonesia baru pada tahap awal. Banyak sektor industri yang mulai meluncurkan program transformasi digital, belum lagi industri keuangan yang sedang menjajaki kolaborasi dengan FinTech.

"Kehadiran Blockchain masih pada tahap awal di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi digital diperkirakan bernilai 130 miliar USD pada tahun 2020. Akankah Blockchain dapat mengubah gaya hidup orang Indonesia? Jika Anda melihat apa yang telah diterapkan di negara lain, jawabannya sangat terlihat," ucap Bari.

Indonesia menurutnya adalah negara terpadat ketiga di Asia dengan penetrasi internet dan smartphone yang tinggi. Tercatat sudah ada 140 jutaan pengguna internet dengan 70 juta di antaranya adalah pengguna smartphone.

"Pemerintah Indonesia harus siap untuk membuat peraturan baru mengenai perkembangan teknologi digital ini, seperti bagaimana mata uang digital di masa depan dapat merespon tantangan ekonomi yang semakin berat" tambah Bari.

Selain pemain biasa dalam mata uang digital, acara internasional ini akan mempertemukan para pemain dalam bisnis digital, startup TI, pengembang aplikasi internet, marketeers digital, dan perusahaan Fintech-base untuk mengumpulkan dan memperluas jaringan mereka.

Blockchain Banjir PeminatFoto: Blockchain Indo 2018 akan digelar di Jakarta 11-12 Mei



ICO dan perusahaan teknologi dari seluruh dunia termasuk yang terkait dengan Keuangan Islam seperti Bayanat Fintech dan Blossom Finance akan mempresentasikan proyek blockchain mereka, namun tidak akan ada perdagangan mata uang kripto selama acara tersebut untuk mematuhi peraturan lokal.



Konferensi ini akan memungkinkan pihak yang berkepentingan dan pemangku kepentingan untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan informasi tentang pasar global aset digital serta mata uang kripto.


Masalah regulasi dan ekonomi serta dampak terhadap lingkungan bisnis juga akan dibahas dalam forum. Konferensi ini akan memberikan masukan kepada berbagai perusahaan, pelaku industri dan peserta biasa tentang bagaimana teknologi blockchain akan merevolusi bisnis dan meningkatkan efisiensi dalam ekonomi.

"Kami juga mengharapkan banyak investor dan modal ventura untuk menghadiri konferensi ini untuk menjajaki peluang di pasar Indonesia yang sangat besar ini, " ucap Denis Gutnik, Relationship Manager Blockchain Indo 2018.

Abas A Jalil, CEO Amanah Capital Group Limited, mengatakan bahwa Asia Tenggara, terutama pasar Indonesia memiliki potensi besar untuk sektor Blockchain dan fintech, khususnya di Keuangan Islam dan Bisnis Digital.

"Konferensi ini akan menjadi tempat pembukaan untuk kemajuan lebih lanjut dalam teknologi baru ini di Asia Tenggara terutama untuk Indonesia sendiri," pungkas Abas.

(rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed