Jumat, 02 Mar 2018 10:38 WIB

Mau Apa Mantan Teknisi Microsoft dan Google di Grab?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Steve Yogge (kiri) dan Milind Mahajan. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET Steve Yogge (kiri) dan Milind Mahajan. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET
Jakarta - Dua teknisi berpengalaman yang baru saja bergabung ke Grab langsung diberikan tanggung jawab dalam memimpin divisi engineering, bagaimana kiprah keduanya nanti?

Duo punggawa baru Grab, Milind Mahajan dan Steve Yegge, yang masing-masing akan menjabat sebagai Head of Engineering dan Head of Engineering - Data Insight, datang ke platform ride sharing tersebut bukan datang dengan tangan kosong.

Mereka telah kenyang pengalaman setelah baik Milind maupun Steve sudah menghabiskan puluhan tahun bekerja di perusahaan teknologi ternama. Saat ditemui di Jakarta, Steve pun menunjukkan antusiasme setelah melihat ekosistem yang berlangsung di dalam Grab.

"Saya sangat takjub dengan prinsip utama dari Grab yang berbunyi masalahmu adalah masalahku. Saya belum pernah menemukan yang seperti ini di tempat manapun. Mereka sangat mementingkan kerja sama di dalam tim dengan membuat seluruh anggotanya mengerti masalah yang dihadapi satu sama lain," tuturnya.

Selain itu, ia pun sudah tidak kaget lagi dengan cara kerja perusahaan ini yang serba cepat.

"Grab memiliki urusan dengan tingkat urgensi yang sangat tinggi, segala sesuatunya harus dituntaskan saat itu juga melalui eksekusi yang cepat dan tepat. Hal tersebut sebenarnya mirip dengan kultur kerja di Amazon," ujar pria yang sempat bekerja di e-commerce besutan Jeff Bezos tersebut selama tujuh tahun.

Steve sendiri berusaha untuk menularkan sejumlah prinsip yang ia dapatkan selama di Amazon maupun Google, seperti semangat pantang menyerah, melahirkan kepercayaan dari pihak konsumen, hingga membuat sebuah ide yang baik menjadi sesederhana mungkin.

Sedangkan Milind, yang bertindak sebagai pemimpin dari pusat riset dan pengembangan Grab di Seattle, Amerika Serikat, mengaku belum memiliki rencana spesifik terkait hal tersebut.

Meski begitu, berdasarkan pengalamannya selama dua dekade di Microsoft ditambah dua tahun di Twitter, ia berusaha untuk menanamkan paham bahwa pekerjaan dimulai setelah produk dikirim ke konsumen.

"Setelah produk dikirim, bukan berarti pekerjaan selesai di situ. Justru pada titik tersebut tugas kita baru saja dimulai untuk menciptakan sebuah produk yang sesuai berdasarkan pengalaman penggunanya," kata Milind.

Menurutnya, dengan membuat produk yang sesuai terhadap masukan dan keinginan konsumen, maka akan membuat mereka merasa didengar dan terpenuhi kebutuhannya.

"Dengan begitu, konsumen pun secara otomatis akan membagikan pengalaman baik mereka ke orang-orang di sekitarnya," ucap Steve melengkapi. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed