Oracle Agresif Jemput Pelanggan SAP Asia Pasifik
- detikInet
Jakarta -
Oracle melakukan aksi jemput bola terhadap pelanggan kompetitornya di Asia Pasifik. Pelanggan SAP yang sedang menghadapi pilihan berat, dibujuk untuk melakukan "OFF SAP".Mewujudkan hal tersebut, Oracle mengumumkan penawaran kepada para pengguna SAP R/3. Para pelanggan R/3 saat ini sedang manghadapi tekanan berupa keharusan membeli ulang lisensi atau melakukan implementasi ulang atas aplikasi-aplikasi mereka ketika melakukan upgrade ke mySAP ERP atau mySAP Business Suite. Hal ini diartikan Oracle sebagai peluang untuk menarik pelanggan SAP agar mau pindah ke Oracle(r) E-Business Suite. Agresifitas Oracle tampak jelas dari nama software yang dipakainya. Perusahaan yang bermarkas di Redwood Shores California ini, menyediakan software khusus bernama Oracle Fusion for SAP atau "OFF SAP". Ketersediaan program ini secara resmi diumumkan di Asia Pasifik oleh Presiden Oracle Charles Phillips di Australia. Sydney, Australia, adalah tempat persinggahan pertama di Asia Pasifik dalam rangkaian Oracle Global Applications Strategy Tour, yang telah dilakukan oleh para pejabat tinggi Oracle di Amerika Serikat dan Eropa."Oracle telah melakukan evolusi bersama-sama pelanggan selama hampir 30 tahun melalui beberapa generasi teknologi," kata Phillips, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima detikinet, Selasa (21/6/2005). "94 persen dari pengguna Oracle E-Business Suite saat ini menjalankan aplikasi-aplikasi terbaru-Release 11i. Sebaliknya, SAP nampaknya mengharuskan pengguna membeli ulang lisensi atas aplikasi-aplikasi ketika pelanggan melakukan upgrade ke teknologi SAP terbaru," imbuhnya.Mengutip laporan dari satu lembaga analis, Philips mengatakan hanya 6 persen dari seluruh pengguna SAP melakukan upgrade ke mySAP ERP. "Sekarang mereka memiliki alternatif yang biayanya lebih murah untuk berhenti membayar lisensi upgrade dan melakukan "OFF SAP", tuturnya. Penawaran AgresifKeharusan melakukan upgrade dari SAP R/3 ke mySAP ERP atau mySAP Business Suite, membeli ulang lisensi dan melakukan implementasi ulang atas aplikasi-aplikasi tersebut, memungkinkan pengguna terbebani waktu dan biaya yang signifikan. Menurut Oracle, para pengguna SAP berpotensi menghadapi kompleksitas, data yang terpecah-pecah, proses upgrade yang sulit dan mahal serta beban pengelolaan legacy bahasa ABAP.Melalui program "OFF SAP" tersebut, Oracle akan menawarkan kredit lisensi hingga 100 persen kepada pengguna SAP R/3 untuk berpindah dari SAP ke aplikasi-aplikasi Oracle. Di samping itu, sebagai bagian dari program "OFF SAP", Oracle Consullting mengumumkan penawaran SAP Migration Insight cuma-cuma, termasuk discovery workshop untuk menjajagi opsi-opsi migrasi bagi pengguna SAP. Dengan SAP Migration Insight, Oracle Consulting akan memberi pelanggan pemahaman yang jelas tentang proses migrasi dan berbagai manfaatnya. Bersama-sama, program-program ini akan memungkinkan pengguna memperoleh nilai dari aplikasi-aplikasi Oracle dengan cepat. "Program ini merupakan penawaran menarik bagi para pengguna SAP di Indonesia yang ingin meng-upgrade aplikasi-aplikasi enterprise mereka ke teknologi terbaru namun menghadapi kendala berupa biaya upgrade di muka yang cukup besar dan kewajiban untuk membayar lagi biaya lisensi ketika upgrade baru harus dilakukan," kata Adi J. Rusli, Managing Director, Oracle Indonesia. "Dengan melakukan migrasi ke aplikasi Oracle yang berbasis standar terbuka melalui program 'OFF SAP' para pengguna aplikasi enterprise di Indonesia dapat memperoleh aplikasi-aplikasi dengan teknologi terbaru secara mudah, dengan jaminan upgrade ke teknologi terbaru di masa depan yang biayanya lebih terjangkau," imbuhnya.Dalam siaran pers disebutkan, lebih dari 40 pengguna telah berpindah dari aplikasi-aplikasi SAP ke Oracle, diantaranya perusahaan-perusahaan seperti Group Voyagers (AS) dan Usina Nova America (Brazil) telah berpindah dari SAP ke Oracle untuk memanfaatkan aplikasi-aplikasi Oracle yang berbasis standard dan melakukan ugrade secara mudah.
(ketepi/)