BERITA TERBARU
Selasa, 19 Sep 2017 19:25 WIB

Top Up Saldo Kena Biaya Hambat Pertumbuhan e-Money

Yudhianto - detikInet
Foto: Yudhianto/detikINET Foto: Yudhianto/detikINET
Jakarta - Tambahan biaya terhadap pengguna uang elektronik yang mengisi saldonya dinilai sebagian kalangan tidak tepat. Hal ini malah disebut bisa menghambat pertumbuhan adaptasi uang elektronik.

Hal itu disampaikan oleh CEO Dimo Pay Indonesia Mario Gaw. Menurutnya, belum tepat kalau pengguna uang elektronik dikenai biaya tambahan saat ini. Pasalnya, adaptasi uang elektronik di Indonesia saat ini dalam tahap berkembang.

"Saat ini belum waktunya lah. Karena ini memang masih tahap awal. Harusnya masyarakat jangan dulu dibebani dengan biaya semacam itu. Ini kan masih baru, kalau sudah kena biaya tambahan malah akan menghambat pertumbuhan cashless society itu sendiri," ujar Mario, di Jakarta, Selasa (19/9/2017).

"Jadi agak kontra dengan misi Bank Indonesia yang ingin mengembangkan cash society," imbuhnya.

Menurutnya lagi, biaya yang dimaksud seharusnya justru dibebankan kepada pemain fintech yang menggunakan infrastruktur uang elektronik. Di sisi lain pemain fintech bisa membebankan biaya tersebut sebagai bagian dari operasional layanannya.

"Saya rasa masih ada cara lain untuk menutup ongkos membangun infrastruktur. Salah satunya dengan (membebankan) partner yang menggunakan infrastruktur, bukan malah konsumennya. Menurut saya itu sebenarnya masuk dalam biaya 'terjun' pemain fintech untuk menggunakan infrastruktur Bank," jelas Mario.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji aturan tentang biaya isi ulang e-money sebesar Rp 1.500-2.000 sekali isi. Selanjutnya, fee yang ditarik dari nasabah itu akan dikumpulkan oleh bank dan digunakan untuk mengembangkan berbagai infrastruktur e-money, seperti menambah lokasi dan mesin isi ulang, serta lainnya.

Namun belum sampai diterapkan, wacana aturan ini telah menuai kontra di kalangan masyarakat pengguna uang elektronik. (rns/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed