Kamis, 20 Apr 2017 17:08 WIB

Ini Alasan Apple Pilih Bangun Pusat Riset di BSD City

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Dikhy Sasra Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Apple telah resmi memilih BSD City di Tangerang Selatan, Banten, untuk jadi landmark pertamanya di Indonesia dalam rangka memenuhi kewajiban aturan konten lokal.

Raksasa teknologi asal Cupertino, California, Amerika Serikat, itu terpaksa untuk tunduk pada aturan yang bernama Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk 4G sejak berlakunya kebijakan itu per 1 Januari 2017.

Dengan adanya aturan itu, maka Apple akan kesulitan untuk memasarkan iPhone dan iPad terbarunya. Agar urusan bisnisnya bisa terselamatkan, maka Apple pun mau tak mau harus memutar otak agar bisa comply dengan kewajiban 30% untuk konten lokal agar bisa tetap berjualan.

Karena tak mungkin bisa memenuhi nilai konten lokal yang sedemikian besarnya, apalagi untuk urusan hardware semisal dengan membangun pabrik, maka dipilihlah alternatif lainnya, yakni dengan mendirikan pusat riset.

"Kebetulan Apple lagi mau bikin R&D center supaya mereka bisa comply dengan TKDN. Mereka cari tempat, perfect place yang sesuai dengan company profile mereka, dan tempat kita cocok," ungkap Michael Widjaja, Group CEO Sinar Mas Land kepada detikINET di BSD Green Office Park.

Untuk membangun pusat riset yang diberi nama Apple Innovation Center itu, perusahaan yang didirikan Steve Jobs dan Steve Wozniak ini akan menyiapkan investasi USD 44 juta atau sekitar Rp 585 miliar.

Lalu, apa alasan Apple sampai akhirnya memilih BSD City sebagai mitranya untuk pembangunan pusat? Michael pun mengisahkan prosesnya, mulai dari pertemuan pertama mereka setahun yang lalu, hingga proses finalisasinya selama 6-8 bulan terakhir.

Ini Alasan Apple Pilih Bangun Pusat Riset di BSD CityFoto: Dikhy Sasra


Diceritakan olehnya, Apple tertarik dengan project Green Office Park dan Digital Hub yang sedang dikerjakan oleh Sinar Mas Land di BSD City. Apple pun akhirnya kepincut karena merasa punya kesamaan visi. Apalagi, di kawasan itu, juga ada multinational company seperti Unilever yang punya kebutuhan tinggi.

"Dengan Apple, kita sama bahasanya. We are creating new content and new opportunities for the people. Kita punya karakteristik, cocok dengan mereka (Apple). Tapi alasannya, sama dengan kenapa Unilever datang ke sini," jelas putra dari Muktar Widjaja ini.

Dalam project Green Office Park dan Digital Hub itu, Michael punya impian untuk membangun kota dan perkantoran yang hijau, dengan begitu banyak lahan terbuka untuk aktivitas luar ruang, serta pembentukan komunitas untuk memperkuat SDM-SDM yang pada akhirnya dibutuhkan oleh Apple.

"Principal-principal itu melihat pandangan yang sama dengan kita. Having principal like Unilever, lalu datanglah Apple. Negosiasi sama mereka nggak gampang. Unilever saja kita tunggu 6 tahun, dari saya belum kawin sampai punya anak. Gila nggak? Untungnya, proses dengan Apple kebetulan cepat. Cuma 6-8 bulan," pungkasnya. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed