Angka ini terbeberkan dari hasil studi yang dilakukan University of Southern California dan Indiana University. Bila dirinci lebih detail, 48 juta akun bot tersebut merupakan 15% dari total 319 juta akun Twitter aktif.
Data yang diumbar ke publik ini secara otomatis kian menyudutkan Dorsey, orang yang dianggap paling bertanggung jawab dalam operasional Twitter. Dorsey sebelumnya pernah meninggalkan Twitter, namun kembali lagi di 2015 dengan harapan kondisi Twitter yang lebih baik dibebankan di pundaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Twitter mengalahkan prediksi Wall Street dengan keuntungan 16 sen per lembar saham. Prediksi Wall Street sebelumnya menyebutkan situs mikroblogging ini hanya akan mencapai keuntungan 12 sen per lembar saham.
Salah satu alasan hasil pendapatan yang rendah, disebutkan sejumlah analis karena melemahnya penjualan iklan. Seperti diketahui, ini adalah sumber penghasilan yang cukup besar, mengingat pengiklan menaruh perhatian pada penempatan iklan di Twitter.
Berdasarkan laporan dari The Times, banyak perusahaan dan brand yang sudah besar, menemukan bahwa iklan mereka menyatu dengan konten berbau rasis dan negatif, salah satunya termasuk video perekrutan teroris. Hal ini membuat mereka menarik iklan di Twitter.
Twitter sendiri bukannya tidak berusaha. Pada 2016, setidaknya ada 125 ribu akun terkait terorisme dan ISIS dihapusnya. Twitter juga mendorong pengguna untuk berkontribusi ikut melaporkan akun penebar kebencian.
Namun semua upaya tersebut tampaknya belum cukup ampuh untuk mengembalikan kejayaan Twitter. Sahamnya terus turun dan turut berkontribusi membuat investor jengah dan meminta Dorsey turun dari jabatannya. Sejak Februari, saham Twitter anjlok hingga 19%. (rns/rou)