Selasa, 03 Jan 2017 19:40 WIB

Fintech Bisa Semakin Berkibar di 2017

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Yulida Medistiara Foto: Yulida Medistiara
Jakarta - Layanan financial technology (Fintech) bisa semakin berkibar di 2017 ini seiring terbitnya aturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir 2016 lalu.

Fintech sendiri merupakan platform digital yang memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi. Ada banyak hal yang bisa dikategorikan ke dalam Fintech, antara lain proses pembayaran, transfer, jual beli saham, investasi online, peminjaman uang secara online, dan sebagainya.

Di satu sisi, Fintech mulai dapat momentum karena memberi berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan keuangan kapan saja dan di mana saja. Berbagai macam platform Fintech sudah bermunculan di Indonesia.

Mobile banking, e-banking, rekening ponsel, online payment, adalah beberapa contoh dari Fintech yang sudah sering digunakan saat ini. Ditambah lagi denga maraknya pembayaran aplikasi transportasi online yang menggunakan kartu kredit dan dompet digital.

Praktisi keamanan cyber Pratama Persadha menjelaskan bahwa fintech ini adalah keniscayaan, tidak bisa dihindari dan akan menjadi primadona di tahun 2017. Menurutnya fintech akan berkembang sangat pesat seiring semakin luasnya penggunaan internet dan layanan komunikasi lainnya,

Fintech Bisa Semakin Berkibar di 2017Foto: dok. Statista

Menurutnya, perkembangan pemakaian Fintech di Indonesia cukup bagus. Menurut survei Fintech Indonesia, perkembangan Fintech di Tanah Air sudah mencapai 78% di tahun 2016 ini. Dan sebagian besar adalah layanan payment, sebesar 43%.

"Layanan ini akan semakin banyak dan digemari, apalagi anak muda sekarang sudah menjadikan smartphone dan internet sebagai kebutuhan primer," terangnya dalam email yang diterima detikINET, Selasa (3/1/2016).

Namun ditambahkan Pratama, regulasi Fintech di tanah air ini masih belum jelas bila dibandingkan dengan negara tetangga, terutama terkait soal keamanan. Karena ini menjadi salah satu hal yang sangat dipertimbangkan oleh nasabah maupun investor.

"Penyedia layanan Fintech harus memberi jaminan keamanan lebih bagi para penggunanya. Karena ini tidak berbeda dengan perbankan yang masih menjadi sasaran para peretas. Salah satu solusinya adalah penggunaan teknologi enkripsi," jelasnya.

Pemerintah pun perlu mendukung dengan membuat regulasi yang melindungi konsumen jika sewaktu-waktu terjadi hal yang merugikan. Selain itu perlu juga dilakukan pengawasan dan pengaturan terhadap semua layanan Fintech yang ada, agar tidak terjadi hal-hal yang menyimpang dan menimbulkan masalah.

"Jangan sampai terjadi kejadian peretasan, namun malah pihak nasabah yang disalahkan," tegas pria asal Cepu Jawa Tengah ini.

Ditambahkan Pratama, teknologi yang akan mulai banyak digunakan pada 2017 adalah digital signature. Teknologi ini sebenarnya sudah banyak di pakai di luar negeri, utamanya untuk mempermudah melakukan agreement, baik antar swasta, maupun antar pemerintah. Ia berharap pemerintah bisa mengadopsi regulasi untuk mendukung Digital Signature dengan segera.

"Digital Signature ini secara langsung bisa mempercepat laju investasi di tanah air karena memotong banyak waktu dan anggaran. Perjanjian tidak lagi harus datang dan ditandatangani kedua pihak. Namun dengan teknologi ini masing-masing pihak bisa memastikan bahwa dokumen otentik dan bisa segera melakukan persetujuan," jelasnya. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed