Sejauh ini ada empat kelompok fintech, yakni peer to peer landing yang berupa pemberian pinjaman, market provisioning, investment, kemudian pembayaran. Bank Indonesia mencatat, jumlah fintech yang terdaftar telah mencapai sekitar 100 perusahaan rintisan.
Pertumbuhan fintech yang sangat cepat, dan rata-rata pelaku usahanya adalah generasi muda, membuat bank sentral itu pun menaruh perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan fintech di Tanah Air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank Indonesia, menurutnya, juga terus membahas terkait perlindungan konsumen dan investor, memonitor kondisi yang berkembang saat ini, serta pasang surutnya ranah teknologi finansial.
"Fintech sendiri sudah muncul sejak tahun 2014 yang bertujuan untuk memberikan layanan ke pos-pos finansial yang masih kosong. Kepentingannya bukan cuma kapital tetapi juga keluhuran untuk mengakses masyarakat yang belum mendapat akses perbankan" kata Junanto seperti dikutip detikINET dari materi diskusi di kantor Amartha, Jakarta, Kamis (1/12/2016).
Amartha, salah satu pionir teknologi keuangan bagi pengusaha mikro, bekerja sama dengan CODE Margonda, komunitas penggerak startup di Indonesia, untuk menggelar diskusi panel 'Inovasi Microlending untuk Mewujudkan Keuangan Inklusif'.
Dalam diskusi panel ini dihadirkan beberapa pembicara yang ahli di bidangnya. Selain Junanto dari Bank Indonesia, ada juga Didi Diarsa (Pengusaha, penggerak UMKM, dan eks pengurus komunitas wirausaha Tangan di Atas), Vivi Alatas (Lead Economist Bank Dunia program pengentasan kemiskinan), dan Andi Taufan Garuda Putra (CEO Amartha).
Menurut Didi Diarsa, UMKM saat ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia agar ekonominya tetap tumbuh. "UMKM menjadi penting karena dapat mengangkat seseorang dari kemiskinan, kerentanan, dan ketimpangan" tambah Vivi Alatas.
Mendorong para UMKM di Indonesia ini adalah alasan mengapa Andi Taufan Garuda Putra mendirikan Amartha. Ia menjelaskan awalnya investasi UMKM di Amartha dimulai dari sebuah kecamatan di pelosok daerah yang belum sepenuhnya terjangkau oleh layanan bank. Amartha menyentuh masyarakat pelosok agar mereka mendapatkan akses ke modal usaha meskipun tidak memiliki rekening bank.
Amartha menyediakan opsi yang lebih terjangkau dengan bagi hasil yang kompetitif. Melalui platform peer-to-peer Amartha, dana investasi juga dijamin keamanannya dan para investor bisa langsung mengetahui siapa yang akan diberi dana seperti pengrajin bros, pengusaha keset, pembuat rengginang, dan sebagainya.
Dalam membangun Amartha, Taufan membuka pintu selebar-lebarnya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak lain seperti kerja sama dalam membangun platform, kerja sama dengan perbankan. Yang paling penting kerja samanya bisa berdampak ke peminjam bisa mendapatkan modal dan berdampak sosial.
Mengenai kemiskinan dan dampak UMKM di Indonesia, Vivi Alatas mengatakan Indonesia saat ini masih menghadapi 3K: kemiskinan, kerentanan, ketimpangan. Kerentanan terjadi karena bencana, misalnya banjir, gempa bumi, dan sebagainya.
Menurutnya, perlu kerja sama multi sektor untuk mempercepat pemulihan dari bencana ini. Sementara ketimpangan terjadi karena unequal opportunities yang dibawa sejak lahir.
"Orang yang dilahirkan dari keluarga miskin-kaya , desa-kota, well educated-uneducated, tidak memiliki akses setara. Nah, tugas kita memberikan akses tersebut, seperti Amartha memberikan akses pembiayaan yang sangat dapat berkembang karena pangsanya masih luas."
Menurutnya, terdapat 57 juta UMKM di Indonesia pada tahun 2013 yang mampu menyerap 96% pekerja dan berkontribusi pada GDP Indonesia sebesar 58%.
"Tapi angka ini tidak naik sejak tahun 2010. Perlu ada bantuan agar UMKM naik kelas. UMKM penting karena masih ada 28.6 juta rakyat miskin dan 62 juta hampir miskin." pungkas Vivi.
(rou/rou)