Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu perusahaan elektronik raksasa Jepang ini mengumumkan kabar yang menyedihkan dimana mereka menderita kerugian sebesar USD 6 miliar atau sekitar Rp 81,5 triliun.
Faktor utama terpuruknya Toshiba di antaranya skandal akuntansi yang menghebohkan akibat petinggi Toshiba melebih-lebihkan keuntungan perusahaan sejak tahun 2008 hingga 2014. Jumlah keuntungan operasional palsu yang dilaporkan oleh Toshiba dalam rentang waktu itu adalah USD 1,2 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara itu pun menyebut bahwa sang petinggi Toshiba yang dimaksud berniat untuk mengundurkan diri sebagai bagian dari restrukturisasi akibat skandal yang dilakukan oleh dirinya.
Sementara itu, upaya Toshiba untuk bangkit di bisnis PC juga tercium dari kesepakatan merger antara tiga perusahaan raksasa Jepang, yakni Toshiba, Fujitsu, dan VAIO.
Sepeti dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (17/2/2016) dalam merger tersebut Toshiba akan menyerahkan merk Dynabook untuk Fujitsu, sementara pabrik VAIO akan fokus pada desain dan pengembangan guna membantu memotong biaya. (mag/rou)











































