Menurut Fajrin Rasyid, CFO & Co-founder Bukalapak, tiga faktor yang dimaksud adalah penetrasi internet, usaha kecil menengah (UKM), dan geliat smartphone yang diproyeksi akan tembus 300 juta dalam beberapa tahun ke depan.
"Penetrasi internet di Indonesia akan mencapai 250 juta pengguna, setara dengan di Amerika Serikat saat ini," ujarnya dalam acara e-Commerce Show Indonesia di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fajrin, beberapa fakta terkait industri e-commerce Indonesia saat ini adalah classified website (iklan baris online) masih memiliki pengguna yang besar. Selain itu berdasarkan data yang ada, transaksi e-commerce di Indonesia paling besar masih melalui media sosial.
"Jadi orang-orang yang belanja dan jualan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, BBM group, Whatsapp dan lain sebagainya diperkirakan masih lebih besar dibandingkan mereka yang belanja melalui platform e-commerce yang sudah ada," jelasnya.
Selain itu penetrasi mobile internet di Indonesia sangat besar, karena banyak orang yang terhubung ke internet dengan menggunakan smartphone.
"Akan tetapi masih ada masalah dalam hal infrastruktur mobile internet yang belum merata, sehingga mobile dan desktop masih sama-sama penting karena ada beberapa orang yang takut menggunakan perangkat mobile untuk transaksi e-commerce karena khawatir koneksinya putus-putus dan mereka memilih menggunakan mobile untuk browsing tetapi menggunakan desktop untuk transaksi e-commerce," ujarnya.
Fajrin juga menyatakan saat ini pengunjung platform e-commerce, khususnya e-commerce besar, yang menggunakan perangkat mobile berkisar 50%-75%, baik melalui mobile web maupun menggunakan mobile aplikasi.
"Dalam hal pembayaran transaksi e-commerce, saat ini orang Indonesia masih banyak menggunakan transfer bank sebagai sarana pembayaran, sementara debit card dan credit card penetrasinya masih kecil, sehingga diperkirakan sekitar 60%-70% transaksi pembayaran di kebanyakan e-commerce di Indonesia masih menggunakan transfer bank," ujar Fajrin.
Tantangan lain dalam industri e-commerce di Indonesia adalah logistic, karena kondisi geografis Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau baik besar dan kecil, sehingga pengiriman keluar daerah atau pulau bisa memakan waktu yang lama bahkan bisa berhari-hari baru sampai di tangan penerima.
"Terakhir dalam hal regulasi bidang e-commerce, pemerintah semakin terbuka, ada beberapa peraturan seputar e-commerce yang masih dalam bentuk draft dan belum diputuskan sehingga kita perlu menunggu sama-sama, seperti RPP Perdagangan Elektronik dari Kementerian Perdagangan, Roadmap e-commerce dari Kemenkominfo, National Payment Gateway dari Bank Indonesia dan OJK serta wacana perubahan Daftar Negatif Investasi bidang e-commerce dari Badan Koordinasi Penanaman Modal," pungkas Fajrin.
(rou/rns)