Cloud sukses memangkas banyak pengeluaran dalam pengembangan sebuah infrastruktur, termasuk di sisi storage. Masih akrab dengan tape-backup? Meski dulunya sangat populer di segmen enterprise, eksistensinya kini kian terhimpit cloud yang mulai dijadikan sebagai solusi backup.
Beberapa tahun ke belakang mungkin cara melakukan data backup yang paling familiar adalah menggunakan tape. Jadi data dengan rentang periode tertentu disimpan ke tape backup, untuk kemudian tape tersebut dikirim ke lokasi tertentu untuk dikopi ke storage backup. Hal ini dilakukan berulang-ulang secara berkala.
Masalahnya, biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan metode ini lumayan tinggi. Karena selain harus menyiapkan infrastruktur storage sendiri yang terdedikasikan untuk backup, perusahaan juga masih harus mengeluarkan biaya untuk urusan transportasinya, alias soal kirim-mengirim tape backup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pun demikian, tak dipungkiri masih ada perusahaan yang masih ragu-ragu menggunakan solusi cloud backup. Menurut Gates, cara paling aman untuk bergeser dari tape ke cloud backup adalah dengan cara menjalankannya secara paralel pada awalnya. Artinya, solusi cloud backup dan tape backup masih dijalankan bersamaan.
βTidak apa-apa memulai dengan lambat, asal berakselerasi setiap saat,β kata Gates, dalam acara NetApp Insight 2015, di Mandalay Bay Resorts, Las vegas, Nevada, Amerika Serikat.
Metode paralel ini juga dimungkinkan semenjak tren software-defined menanjak. Sonny Affen, Senior Tehnical Consultant NetApp Indonesia menambahkan, software-defined membuat masalah storage jadi fleksibel. Contohnya, pengguna bisa bebas memilih pakai hardisk atau SSD untuk backup, atau malah hybrid alias memadukan keduanya.
βSekarang apa-apa software defined, jadinya fleksibel. Jadi arahnya itu sekarang sudah bukan lagi bicara hardware, tapi software. Apa servis yang bisa diberikan (oleh sebuah software),β pungkas Sonny.
(yud/ash)