Citrix, perusahaan asal Amerika Serikat yang berspesialisasi pada desktop virtualization, bahkan mendapatkan pertumbuhan pendapatan terbesar dari Indonesia, diikuti Malaysia dan Thailand. Besarnya jumlah penduduk Indonesia dilihat Micallef sebagai peluang bisnis yang menggiurkan.
Peluang pertumbuhan bisnis itu, kata Micallef, membuat Citrix menaruh country manager di Indonesia. Citrix tak punya country manager di Malaysia dan Thailand. “Kami terus berinvestasi di Indonesia dan menambah jumlah tim kami di sana,” kata Vice President Asia Pacific Citrix, Rob Willis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan klien mereka, Bank NISP, telah memakai XenDesktop buat menyederhanakan perangkat komputer di kantor-kantor cabangnya.
Bank ini, kata Micallef, di beberapa cabangnya hanya punya koneksi V-Sat tapi virtualisasi berjalan tanpa terganggu. “Ini adalah koneksi terburuk yang tidak dapat diandalkan karena banyak latency dan data loss,” ujarnya.
Micallef mengklaim Citrix bisa mengatasi masalah infrastruktur jaringan yang lemah seperti itu. Apalagi, kata dia, perusahaannya telah mengakuisisi Framehawk pada 2013.
Framehawk adalah perusahaan yang didirikan oleh Peter Badger dan Stephen Vilke yang berpengalaman mengurusi hambatan komunikasi antara badan antariksa Amerika Serikat (NASA) dengan astronotnya di luar angkasa.
Micallef mengatakan, teknologi milik Framehawk itu teruji keampuhannya dalam mengatasi latency dan data loss. Keunggulan lainnya dari teknologi Framehawk adalah pengiriman aplikasi dan informasi dengan keamanan yang tinggi.
Meski masih terbentur dengan keengganan perusahaan untuk mengubah cara kerjanya, Micallef yakin tuntutan akan virtualisasi di Indonesia akan terus meningkat. Ada pelajaran yang menurutnya bisa diambil dari Malaysia dan Thailand.
Seperti Malaysia, pekerja di Indonesia juga berharap bisa bekerja dari luar kantor ketika harus masuk pada Hari Raya. Seperti banjir melumpuhkan Bangkok, bencana alam di Indonesia juga menghalangi pekerja ke kantornya.
(okw/ash)