"Iya, mereka sudah melaporkan diri. Saat ini PINS dan TELE sedang dilakukan penelitian awal merger oleh Direktorat Merger KPPU," kata Kepala Biro Hukum dan Humas KPPU, Mohammad Reza, saat berbincang dengan detikINET, Selasa (21/5/2014).
Menurut Reza, penyidikan semacam ini biasanya memerlukan waktu sekitar satu hingga tiga bulan. "Jangka waktunya sekitar 30-90 hari kerja. Yang dinilai adalah struktur pasar yang meliputi penguasaan pasar dan konsentrasi pasar," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, TiPhone sendiri salah satu mitra terbesar dari Telkom Grup, terutama untuk produk Telkomsel dengan anak usahanya Telesindo. Tahun ini perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 15 triliun atau tumbuh 44,23% dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 10,48 triliun.
Dalam keterangannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Sekretaris Perusahaan Tiphone Semuel Kurniawan mengatakan aksi korporasi ini bagian dari kerjasama strategis dalam distribusi retail perangkat penunjang telekomunikasi.
"Perseroan dan pemegang saham utama perseroan telah melakukan penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat dengan PINS," katanya dalam pernyataan tersebut.
Sayangnya, tak diungkapkan persentase dari kode saham TELE yang akan dilepas ke PINS. Hanya diharapkan dari aksi ini dapat memperkuat lini bisnis premise equipment dari PINS, ekspansi serta diversifikasi lini bisnis perseroan.
Sementara menurut Slamet Riyadi, mantan Direktur Utama PINS, rencana Telkom untuk menguasai sebagian saham milik TiPhone ini sudah berlangsung lama saat ia masih menjabat.
"Inisiasi M&A (merger akuisisi) ini sudah lama, sudah setengah tahun yang lalu. Cuma saya tidak sempat selesaikan karena keburu pensiun," ungkapnya saat berbincang dengan detikINET.
Ia juga mengatakan, kekuasaan PINS atas TELE nantinya tidak akan mayoritas karena hanya sekitar 10%-20% saja saham milik TiPhone yang akan dicaplok Telkom. "Cuma minoritas," pungkasnya.
(rou/ash)