Sayangnya, menurut data yang dikeluarkan oleh Autodesk, kebanyakan pengguna aplikasi desain berbasis konstruksi di Indonesia masih menggunakan model 2D dalam proses desainnya. Hal tersebut mungkin diakibatkan oleh minimnya tenaga ahli yang menguasai proses desain menggunakan model 3D.
Namun seiring perkembangan teknologi desain yang telah mengacu pada model 3D, dengan sendirinya pelaku di bidang tersebut dituntut untuk memiliki pemahaman yang baik tentang pembuatan desain berbasis model 3D.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab dengan penggunaan model 3D, desain yang dibuat dapat lebih mudah diperhitungkan dimensinya dari berbagai perspektif, sehingga mampu memberikan prediksi yang lebih akurat terhadap desain tersebut.
Melihat hal tersebut, Autodesk yang merupakan pemilik aplikasi desain konstruksi AutoCAD telah mulai berusaha mengedukasi para penggunanya untuk beralih menuju desain yang berbasis model 3D.
"Desain berbasis 3D akan lebih menarik bagi penggunanya, karena hasil desain tersebut dapat dilihat melalui berbagai perspektif, sehingga prediksi terhadap hasil akhir desain tersebut menjadi lebih akurat," ucap V.R. Srivatan, Managing Director ASEAN Autodesk, Rabu (12/12/2012).
Solusi yang ditawarkan Autodesk melalui produk software desain garapannya pun tidak berkutat pada sekadar pembuatan desain menggunakan model 3D saja, karena Autodesk juga menawarkan produk software yang memiliki kemampuan untuk melakukan simulasi kejadian nyata misalnya seperti menakar kekuatan sebuah bangunan dengan memberikan efek simulasi gempa.
Dengan begitu hasil akhir dari desain yang dibuat pun tidak berakhir pada bentuk final sebuah konstruksi saja, namun juga dapat mengetahui bagaimana ketahanan konstruksi bangunan itu nantinya.
Srivatsan lebih lanjut menjelaskan, tidak hanya untuk desain konstruksi bangunan, aplikasi yang memiliki kemampuan simulasi tersebut pun dapat diimplementasikan diberbagai sektor industri, misalnya pada industri manufaktur otomotif guna melakukan simulasi crash test.
"Dibanding melakukan tes secara real time, kan lebih baik bila dilakukan menggunakan simulasi terlebih dahulu. Selain bisa dilakukan berulang-ulang untuk menemukan parameter terbaik, cost yang dibutuhkan pun jauh lebih rendah," tandasnya.
(ash/ash)