Baik data lama ataupun yang baru sama-sama penting untuk disimpan, apalagi ini menyangkut pelayanan yang baik bagi konsumen. Tak pelak, butuh solusi yang cerdas untuk mengelolanya, karena pelayanan dengan kecepatan menjadi nilai plus di mata konsumen.
"Sayangnya, 80% enterprise masih mengelola data dengan cara yang tidak terstruktur," kata Vice President of Database and Technology SAP South East Asia, Suraj Pai, saat berdiskusi dengan media, di Jakarta, Rabu (26/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Malah ada suatu analogi yang terjadi tiga tahun lalu, penyimpanan data suatu informasi saking panjangnya bila ditumpukkan bisa membentuk jarak dari Bumi ke Planet Pluto," ungkapnya.
Data bisa dikelola untuk berbagai hal demi kepentingan perusahaan, termasuk memprediksi sesuatu untuk pengambilan keputusan.
Model prediksi secara tradisional telah menjadi bidang utama para ahli statistik dan ilmuwan data. Namun tentu saja ada sejumlah kekurangan apalagi untuk menganalisis .
"Menghadapi gelombang big data seperti saat ini, database berbasis memori menjadi penting untuk mengolah data berskala besar," cetus Suraj.
Dijelaskan Suraj, database berbasis memori menjadi solusi cerdas untuk mengelola data. Selanjutnya, tumpukan data ini bisa digunakan untuk pengambilan kesimpulan bagi sebuah kondisi perusahaan.
Ia menambahkan, database berbasis memori juga turut membantu perusahaan untuk mengeksplorasi bisnis dan mengidentifikasi peluang serta risiko yang tersembunyi dari data saat ini atau bahkan di masa lalu.
"Perusahaan besar seperti telekomunikasi dan perbankan, adalah satu dari banyak perusahaan yang mengelola data dalam jumlah besar. Hal ini saya rasa menjadi suatu kebutuhan," tandasnya.
(tyo/ash)