"Red Hat itu seperti Robin Hood, mengambil uang dari area bisnis yang sebelumnya didominasi oleh para perusahaan besar," kata Damien Wong, General Manager Red Hat Asean, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (25/7/2012).
Aksi bak Robin Hood itu salah satunya dilakukan Red Hat di pasar server virtualisasi yang saat ini masih dikuasai lebih dari 80% oleh VM Ware.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghematan besar yang ditawarkan solusi enterprise open source ini membuat Red Hat tumbuh pesat. Tercatat sudah ada ribuan perusahaan enterprise yang menjadi pelanggan dengan jumlah pengguna 2,5 juta di dunia.
"Kebanyakan perusahaan enterprise ini menggunakan IT sebagai alat pendukung bisnis. Nah, dengan menghemat pengeluaran IT, uangnya bisa dipakai untuk mengembangkan bisnis yang lain," papar Wong.
Red Hat sendiri sedang berusaha mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Sejauh ini, perusahaan software open source tersebut mengaku telah memiliki ratusan pelanggan enterprise, seperti Telkomsel dan Plaza Indonesia.
"Indonesia adalah pasar yang sangat penting dan strategis bagi kami. Pertumbuhan pelanggan kami cukup besar dan menjanjikan meski jumlahnya belum sebanyak kompetitor lainnya," kata Wong.
Red Hat yang memiliki 5000 pegawai belum merasa menjadi perusahaan enterprise raksasa. Namun kiprahnya sudah mulai diperhitungkan. Kekuatannya dalam open source menjadi andalan.
"Selain Robin Hood, kami juga seperti Gandhi. Pertama kami hadir, kami ditertawakan. Kemudian kami dilawan. Dan pada akhirnya kami menang. Seperti gandhi, Red Hat melakukan hal yang sama di IT," tandas Wong.
(rou/fyk)