"Dengan melibatkan 45 ribu orang teknisi kami yang semuanya menggunakan komputer virtual merupakan bukti kesiapan kami dalam menyediakan teknologi ini kepada pelanggan di semua industri, termasuk di Indonesia dan negara-negara lain," tukas Li Wenzhi, CEO Huawei Indonesia.
Untuk memaksimalkan skalabilitas dan fleksibilitas yang dihadirkan oleh komputasi awan, Huawei memulai dengan memanfaatkan teknologi komputer awan ini di pusat penelitian dan pengembangan Huawei di Shanghai pada tahun 2009. Dan kini, komputasi awan telah digunakan oleh lebih dari 45 ribu teknisi Huawei di seluruh dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu untuk pemasangan juga diklaim menjadi sangat efisien untuk komputer awan, dari sebelumnya tiga bulan menjadi satu minggu saja.
Selain itu, dengan menggunakan program thin client, para teknisi dikatakan bisa dengan mudah mengakses komputer virtual mereka kapan saja sehingga akan meningkatkan efisiensi kerja mereka. Dengan komputer awan, data tidak lagi disimpan di setiap komputer melainkan pada server di pusat data awan.
Masalah perawatan pun menjadi semakin efisien karena seorang tenaga TI bisa menangani lebih dari 1.000 komputer virtual, bandingkan dengan sebelumnya di mana seorang tenaga TI hanya bisa menangani hingga 100 komputer saja.
"Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi komputasi awan, semakin banyak pula aplikasi-aplikasi bisnis yang beralih ke teknologi ini. Di Indonesia, divisi Huawei Enterprise kami telah siap memenuhi kebutuhan yang ada saat ini dengan berbagai pilihan produk dan solusi enterprise yang kami miliki, termasuk layanan komputasi awan," pungkas Li, dalam keterangan tertulis, Selasa (21/2/2012).
(ash/fyk)