Lembaga riset Frost & Sullivan bahkan memproyeksi cloud akan menjadi teknologi mainstream dengan perkiraan 30% dari perusahan-perusahaan di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, akan menerapkan berbagai jenis komputasi awan di tahun 2012.
Menurut Andrew Milroy, Vice President ICT Practice Frost & Sullivan Asia Pacific, perusahaan-perusahaan di Asia mulai menyadari manfaat dari komputasi awan, khususnya dari sisi penghematan biaya dengan mengalihkan pengeluaran dari capital expenditure (Capex) ke biaya operasional (Opex).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejala kebangkitan komputasi awan juga dirasakan oleh banyak penyedia jaringan layanan. Telkom dan Indosat misalnya, telah jauh-jauh hari bersiap untuk berjibaku merebut pasar dengan omset triliunan rupiah tersebut. Telkom bergerak melalui Divisi Business Services (DBS) dan TelkomSigma, sementara Indosat mengandalkan Aplikanusa Lintasarta.
Tak hanya dari sisi operator, para vendor jaringan, hardware, dan software pun juga telah ready untuk ikut terjun mencicipi bisnis yang mulai menggeliat di semua sektor, mulai dari enterprise dengan omset triliun rupiah hingga level UKM dengan omset puluhan juta rupiah.
Vendor jaringan dan hardware Fujitsu bahkan telah menyiapkan infrastrukturnya untuk disewakan kepada UKM dengan skema sewa yang hitungannya bak charging pulsa prabayar. Pasar UKM memang tak bisa diremehkan sebagai pasar potensial untuk cloud computing.
"Ada 50 juta UKM di Indonesia. Ini akan menjadi penggerak petumbuhan ekonomi di masa yang akan datang," kata Chairman Executive Google Eric Schmidt, saat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.
Google sendiri dikabarkan tengah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra lokalnya di Indonesia dan bersiap-siap untuk melakukan ekspansi di awal 2012 ini.
(rou/ash)