Demikian dikatakan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balitbang SDM) Kementrian Komunikasi dan Informasi, Cahyana Ahmadjayadi usai seminar 'Innovation Cloud Computing' di Campus Center ITB.
Menurutnya, terjadi pro dan kontra mengenai pelaksaan komputasi awan di Indonesia. "Pro karena ingin segera melaksanakan sesegera mungkin. Namun saat ini bandwidth internet masih terbatas," katanya kepada detikINET, Senin (18/10/10).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya perkirakan perlu waktu 3-5 tahun. Patokan tersebut berdasarkan life cycle sebuah proyek. Namun tentunya harus ada inovasi dalam pengembangannya," ungkapnya.
Senada dengan Cahyana, Ketua Kelompok Keilmuan Teknologi Informasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, Suhono Harso Supangkat mengungkapkan diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa mensejajarkan komputasi awan di Indonesia dengan negara-negara lainnya.
"Ya sekitar 5-10 tahun. Namun harus ada kolaborasi yang bagus antara akademisi, industri dan pemerintah. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri," tegasnya.
Saat ini, lanjut Suhono, pihaknya tengah melakukan riset untuk pengembangan komputasi awan. Dari riset ini diharapkan dapat mengimplementasikan komputasi awan di Indonesia.
"Sudah 6 bulanan kita melakukan penelitian. Kita antipasi kebutuhan teknologi dan apa yang harus dikuasai dalam cloud computing ini," katanya.
Sebelumnya ITB menandatangani kerjasama dengan TRG. Dalam kerjasama tersebut, TRG memberikan fasilitas untuk penelitian dan pengembangan teknologi komputasi awan.
(afz/wsh)