Demikian penilaian Husni Nurdin, Deputy Country Manager Epson Indonesia kepada sejumlah wartawan dalam jumpa pers di kantor Epson, di Jakarta, Selasa (5/1/2010).
Kalau diperhatikan, jajaran printer yang masuk ke pasar Indonesia memang hampir seluruhnya merupakan hasil impor dari negara lain. Seperti Jepang dan Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih, lanjut Husni, printer-printer buatan China sudah wara-wiri di pasaran. Meskipun harga yang ditawarkan mereka murah, namun konsumen juga sudah pintar tak mau membeli barang murahan.
"Jadi meski harga produk-produk mereka murah, semua tinggal diserahkan ke user. Biar mereka yang memilih," lanjutnya.
Pasar printer Indonesia sendiri dinilai Epson masih terbilang seksi, dengan membukukan pertumbuhan pasar tiap tahunnya.
Untuk 2010 misalnya, dari sekian banyak segmen printer yang ada, rata-rata dari mereka diprediksi akan tumbuh 5-10 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ada di kisaran 4,5-5,5 persen.
Β
"Populasi rasio pemilik komputer dan aksesorisnya (termasuk printer-red.) Masih kecil. Ibarat mangkuk, masih banyak area yang masih belum terisi. Jadi peluang bisnis printer di sini masih besar," pungkas Husni.
(ash/faw)