Dijelaskan General Manager HT Mobile Nur Amin, strategi yang akan dijalankan HT Mobile ke depannya tersebut bukan tanpa alasan.
Hal itu, katanya, adalah lantaran persoalan politis yang ujung-ujungnya hanya dapat membuat persaingan yang tidak fair dari para vendor ponsel yang 'dikawini'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pun demikian, bukan berarti HT Mobile 'alergi' dengan operator dan hubungan mereka menjadi tidak akur.
"Kita juga dekat dengan mereka (operator-red.). Tapi kalau mau kerja sama harus bisa menonjolkan apa kelebihan produk kita," tukas Amin.
"Kalau cuma punya target 50 ribuan buat apa? Yang ada bakal diketawain. Mereka (Operator-red.) butuhnya jutaan," lanjutnya.
Program bundling memang sebagian besar disukai oleh para vendor ponsel karena diyakini ampuh untuk mengangkat brand. Terlebih bagi para pemain baru yang brand image-nya kurang familiar di masyarakat.
Tak ayal, para vendor ponsel merek lokal ini seakan berlomba-lomba untuk mengajukan program kerja sama dengan para operator. Nah, di sisi lain, para operator selaku pihak yang memiliki nama lebih besar tinggal memilih semaunya vendor mana yang ingin mereka 'kawini'.
Namun sepertinya, HT Mobile ingin menerobos 'strategi ketergantungan' tersebut. "Untuk mengangkat brand tidak harus bundling, kita bisa belajar dari (vendor ponsel) yang sudah sukses. Tidak apa-apa kalau harus mengekor dia," pungkas Amin.
(ash/rou)