"Kalau itu jadi keputusan dan diharuskan pemerintah, kita mau saja," kata Service Manager Asiafone Jarot Susanto usai peluncuran AF808 dan AF701, petang ini di FX Plaza, Jakarta, Senin (2/2/2009).
"Kita memang mengarah ke situ karena Depperin juga sudah menginginkan ponsel China untuk bangun pabrik di Indonesia," ujar Jarot yang dalam acara itu itu mewakili Herman Zhao, Direktur Utama Asiafone.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bikin pabrik itu tergantung, apakah CKD (completely knock down) atau assembly saja. Yang pasti kita juga butuh insentif pengurangan pajak bea masuk," tukasnya.
Asiafone sendiri baru mulai berjualan sejak Agustus 2008 lalu. Meski tertatih-tatih di dua bulan pertama, vendor ponsel ini mulai menemukan titik terangnya di dua bulan berikutnya.
"Penjualan kami sangat baik sekali sekarang. Kami berhasil meningkat dua ribu persen bahkan pada Desember tahun lalu dan Januari tahun ini," klaim Herman Zhao tanpa
berani menyebut angka ponsel yang berhasil terjual.
Meski tumbuh 2000%, namun bisa dipastikan angka penjualannya tak segelegar raksasa ponsel Eropa semisal, Nokia, Sony Ericsson, bahkan BlackBerry. Sebab, kata Jarot,
ponsel merek lokal cuma mengambil porsi pangsa pasar tak sampai 5% dari total sekitar 30 juta ponsel yang dipasarkan tahun lalu.
Asiafone sendiri berharap bisa menguasai 30-40 persen dari lima persen tersebut demi bisa menempati posisi tiga besar di kelas ponsel China dengan merek dagang lokal yang jumlahnya bisa mencapai lima puluhan merek.
"Kami cuma pemain merek lokal yang bersaing di pasar middle end dan low end. Tidak mungkin kami ponsel China berani menawarkan harga seperti Nokia dan lainnya. Cuma
saja, fitur yang kami tawarkan tak kalah mewahnya," tandas Jarot.
Untuk meraih pangsa pasar yang ditargetkan, salah satu upaya yang dilakukan Asiafone ialah dengan cara memperkuat portofolio produk. Seperti yang mereka lakukan dengan merilis dua ponsel fesyen AF808 dan AF701. (rou/wsh)