Anda semua, para pembaca yang budiman, punya kuasa penuh untuk menjadi penentu sukses tidaknya industri kreatif yang tengah berjuang untuk bangkit dan eksis mengarungi rimba digital.
Ya, usaha penerbitan buku di Indonesia, sekarang sedang mencoba peruntungannya di era digital. Upaya ini memang bak perjudian, apalagi kalau melihat kultur Indonesia yang kurang suka membaca dan masih hobi dengan pembajakan.
Namun, masih banyak orang yang baik hati dan rela mengeluarkan uangnya untuk membeli karya-karya yang bagus. Masih ada juga orang yang suka membaca. Meskipun jumlahnya tak seberapa, tapi orang-orang ini patut dihargai, layaknya mereka menghargai hasil karya penulis buku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan makin banyaknya sumber bacaan di internet, terlebih banyak pula yang gratis, peluang penerbit dan penulis untuk mencari nafkah dari buku digital sebenarnya makin kecil. Namun karena buku adalah industri kreatif, peluang pun terbuka lebar. Siapapun bisa sukses.
Menurut Pangestu Ningsih, CEO Mizan publisher yang menelurkan aplikasi bacaan QBook, pembaca sendiri yang akhirnya menentukan mana bacaan yang baik dan mana yang tidak. Mana yang bermutu atau buruk. Mana yang patut dipercaya validitasnya.
"Teknologi secanggih apapun yang diadaptasi untuk memikat pembaca, pada akhirnya konten yang berkualitas yang akan dipilih oleh pembaca digital," ujar Ningsih yang hadir menjadi pembicara di acara Ngopi Bareng detikINET dan Telkomsel di Fx Plaza, Jakarta, Rabu (18/12/2013).
Ningsih juga menambahkan penulis yang baik seharusnya memanfaatkan feedback dari pembacanya, sebagai pembelajaran agar dapat menghadirkan bacaan yang kebih baik lagi sesuai keinginan pembacanya.
Dengan kata lain, kualitas sebuah bacaan selain ditentukan oleh penulisnya sendiri, pembaca juga punya andil besar. Karena pada akhirnya pembacalah yang akan menentukan kualitas sebuah bacaan.
"Jadi meski banyak sumber bacaan di internet, konten yang bagus dan berkualitas yang akhirnya akan bertahan," pungkasnya.
(rou/rou)