http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Klinik Fotografi

Kiat Membuat Foto HDR yang Ciamik

Enche Tjin - detikinet
Kamis, 25/04/2013 17:51 WIB
Kiat Membuat Foto HDR yang Ciamik (dok. pribadi)
Jakarta - Bagaimana cara membuat foto HDR yang bagus?

(Ilham Prabaswara, Pria)


Jawaban:

HDR (High Dynamic Range) adalah salah satu teknik olah digital yang digunakan fotografer untuk mengatasi kelemahan image sensor sebuah kamera untuk menangkap dynamic range yang besar antara wilayah yang terang dan gelap dalam suatu pemandangan.

Tujuan utama membuat foto HDR adalah untuk mendapatkan pencahayaan yang seimbang. Misalnya untuk membuat pencahayaan di langit seimbang dengan bumi.

Secara sederhana, teknik ini dilakukan dengan membuat foto pemandangan yang sama dengan nilai exposure (terang gelap) yang berbeda-beda. Dari gelap sampai terang.

Untuk membuat foto HDR, minimal membuat dua foto, tapi jika pemandangannya memiliki tonal terang gelap yang sangat berbeda, saya rekomendasikan membuat lebih dari 3-5 foto.

Foto HDR ini membutuhkan foto subjek yang relatif diam/tidak bergerak, seperti pemandangan, arsitektur, dan still life.

Untuk membuat foto gabungan dengan mengunakan teknik HDR yang bagus, pertama-tama Anda membutuhkan kamera yang bisa kita ubah mode exposurenya, lebih baik lagi jika memiliki mode M (Manual).

Lalu, Anda membutuhkan sebuah tripod yang kokoh supaya antara satu foto dengan foto lainnya tidak berubah komposisinya.

Lalu untuk mengolah foto HDR, Anda bisa mengunakan software pengolah HDR seperti Adobe Photoshop CS, atau software lainnya seperti Photomatix. Langkah-langkah memotret HDR yaitu:

1. Tempatkan kamera di tripod.

2. Pastikan setting White Balance kamera di set ke salah satu preset/manual karena Auto White Balance berpotensi akan mengubah warna dari foto kesatu ke yang lain.

3. Memotretlah dari yang gelap sampai yang terang. Atur exposure dengan shutter speed. Biasanya saya mengubah shutter speed dari cepat ke lambat. Misalnya, 1/60 detik, lalu 1/30 detik, dan 1/15 detik. Setiap melakukan perubahan setting, potretlah satu gambar.

4. Masukkan foto-foto tersebut ke pengolah foto HDR.

5. Atur setting untuk mendapatkan foto HDR sesuai keinginan

Contoh kasus: Memotret HDR foto perayaan Waisak di Candi Borobudur.

Kondisi pencahayaan di patung Buddha sangat terang, sedangkan candinya sendiri lebih gelap, apalagi pengunjung-pengunjungnya. Jika saya mengambil satu foto saja, saya akan mendapatkan patung Buddha terlalu terang, atau Candi Borobodur dan pengunjung yang terlalu gelap. Maka itu, teknik HDR saya terapkan di kondisi seperti ini.

Saya memotret tiga foto dengan setting shutter speed yang berbeda, foto pertama saya buat dengan shutter speed 1/30 detik, yang kedua 1/4 detik dan yang ketiga 1 detik. ISO dan bukaan sama yaitu 200 dan f/4. Tentunya kamera didudukkan di atas tripod.


Beberapa foto dengan terang gelap berbeda untuk digabungkan menjadi satu foto:








Selanjutnya saya menggabungkan ketiga foto dengan software olah foto Photoshop CS, setelah itu saya menyesuaikan setting sesuai keinginan yaitu membuat foto yang terlihat tetap alami.




(Tampilan antar muka software Photomerge HDR di Photoshop CS. Kita dapat menyesuaikan setting penggabungan gambar di sebelah kanan.)





(Hasil gabungan ketiga foto menjadi foto HDR).
(sha/ash)
http://us.images.detik.com/content/2013/02/22/1204/copyofenche-tjinbaru2.jpg Enche Tjin Enche Tjin mengenal fotografi sejak tahun 1998 saat menuntut ilmu di jurusan Desain Komunikasi Visual. Di tahun 2007, ia beralih ke fotografi digital. Enche aktif di dalam menulis buku, blog, artikel untuk media massa, dan menyelenggarakan kursus kilat serta tur fotografi. Enche juga menerima jasa fotografi terutama event dan portrait.
 
Website: infofotografi.com
Twitter: @infofotografi





Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%


Must Read close