Jumat, 19 Okt 2018 12:51 WIB

Menerapkan Diagonal Barok untuk Memilih Foto yang Tepat

Ari Saputra - detikInet
Foto: Ari Saputra/detikcom Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta - Dalam sebuah adegan atau spot, biasanya menjepret tidak hanya sekali. Bisa 2,3 atau lebih hingga memperoleh gambar yang baik. Saat menyortir di komputer, baru dipilih foto paling menarik dan tepat. Bisa cocok karena ekpresinya, pencahayaan, warna maupun momennya.

Salah satu parameter yang biasa saya pilih yakni tepat secara komposisi. Komposisi seperti apa? Komposisi diagonal barok (diagonal baroque).

Komposisi diagonal barok merupakan salah satu varian dari komposisi fotografi. Disebut salah satu, karena masih ada beberapa komposisi lain seperti golden triangle, golden spiral, rule of thirds dan spiral.

Menerapkan Diagonal Barok untuk Memilih Foto yang TepatMembuat diagonal barok berdasarkan rule of thirds 1:5.


Diagonal barok ini merupakan 'pengembangan' dari komposisi rule of thirds 1:5 dengan menarik garis diagonal di dalamnya. Garis diagonal ini yang membuat garis imajiner untuk menuntun bagaimana subjek ditempatkan dan mekanisme ruang foto bergerak untuk membangun cerita.

Tentu, titik persimpangan dan garis diagonal itu bukanlah harga mati. Ia fleksibel, bisa berada di sebelah kiri atau kanan yang tidak terlalu jauh namun masih dalam langgam tersebut.

Dalam contoh pertama, saya memiliki sejumlah frame saat memotret kerumunan penumpang saat turun dari bus TransJakarta. Dari frame itu, sortiran pertama yakni ketepatan ekpresi lalu blocking.

Menerapkan Diagonal Barok untuk Memilih Foto yang TepatMemilih komposisi terbaik dari deretan frame yang dihasilkan. Foto: Ari Saputra/detikcom


Blocking ini dicari sampai menemukan subjek tidak saling menumpuk, diusahakan sesama subjek berdiri sendiri. Baru kemudian mencocokkan dengan komposisi diagonal barok yang sesuai hingga terpilih frame kesekian. Jika sudah mantap, foto tersebut baru diolah secara matang dengan berbagai fitur di photoshop.

Menerapkan Diagonal Barok untuk Memilih Foto yang TepatDiagonal barok diterapkan pada foto portrait. Foto: Ari Saputra/detikcom


Dengan mekanisme yang sama, langkah itu saya lakukan pula untuk foto dalam contoh kedua, ketiga hingga kelima. Langkah ini membuat aktivitas 'kurasi' menjadi lebih efektif dan rasional. Bukan sekadar selera melainkan mempunyai landasan yang kuat.

Pertanyaanya, apakah foto-foto diagonal barok tersebut sudah dipikirkan atau direncanakan sejak saat pemotretan? Pengalaman saya mengatakan tidak. Saat pemotretan, komposisi mengalir saja sesuai kenyamanan saat memotret.

Menerapkan Diagonal Barok untuk Memilih Foto yang TepatPemotretan spontan menghasilkan komposisi diagonal barok di Manhattan. Foto: Ari Saputra/detikcom


Kalaupun setelah diteliti kok sesuai dengan diagonal barok, itu merupakan kebetulan. Dalam psikologi, kebetulan itu mengarah kepada persepsi alam bawah sadar si pemotret.

Menerapkan Diagonal Barok untuk Memilih Foto yang TepatTuris dijepret dengan komposisi diagonal barok. Foto: Ari Saputra/detikcom

Menerapkan Diagonal Barok untuk Memilih Foto yang TepatMenerapkan komposisi diagonal barok dengan pendekatan streetphotography. Foto: Ari Saputra/detikcom


Yakni soal persepsi ruang dan pengalaman fotografis yang menemukan pola dan komposisi tersebut tanpa harus disadari. Dan untuk mencapai pada titik itu, tidak ada cara lain selain terus latihan, sering memotret dan tetap rajin meriset foto-foto yang menarik, legendaris dan monumental --- tentu sesuai genre yang Anda minati. (Ari/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed