Bulan Madu Industri Telekomunikasi Telah Usai

Bulan Madu Industri Telekomunikasi Telah Usai

- detikInet
Rabu, 13 Agu 2008 08:14 WIB
Jakarta - Dengan menurunnya margin pendapatan dan sulitnya mendapatkan sejumlah pelanggan baru akibat perang tarif, bisa dibilang masa bulan madu bagi industri telekomunikasi telah usai.

Demikian dikemukakan anggota Badan Regulasi Telkomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, ketika dimintai pendapatnya lewat pesan singkat oleh detikINET, Rabu (13/8/2008).

"Dengan persaingan yang ketat di mana terjadi perang tarif, tidak bisa lagi operator mengharapkan menikmati masa bulan madu dengan EBITDA margin yang tinggi dan mudahnya mendapat pelanggan baru seperti yang selama ini terjadi," jelasnya.

Belum lama ini sejumlah operator telekomunikasi mengumumkan kinerja kuartal keduanya 2008 ini. Seperti yang sudah diprediksi, kinerjanya memang tidak menunjukkan angka gemilang seperti tahun-tahun sebelumnya, khususnya bagi sang BUMN telekomunikasi.

Apalagi setelah pemerintah memberlakukan tarif interkoneksi baru yang berujung penurunan tarif ritel untuk pelanggan hingga 40% sejak April 2008, atau tepat ketika kuartal kedua bergulir.

Dengan penurunan tarif interkoneksi yang berimbas pada penurunan tarif, menurut Heru, memang akan menggeser apa yang disebut operator surplus ke konsumen surplus. "Sehingga penurunan pendapatan secara alami memang akan turun karena tarif akan murah dan kian murah," jelasnya lagi.

Dari sekian operator yang mengumumkan kinerjanya, hasil kurang menyenangkan tentu dialami Telkom. Pada kuartal kedua tahun ini, pendapatan usaha BUMN telekomunikasi itu hanya Rp 30,18 triliun atau naik cuma 5,86% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 28,51 triliun.

Rendahnya pendapatan usaha ini membuat laba bersih Telkom hanya sebesar Rp 6,3 triliun atau turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 6,6 triliun. Penurunan juga terjadi pada margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), dari 64% pada kuartal kedua 2007 menjadi 60% pada kuartal kedua tahun ini.

Kurang Cemerlang

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan, suramnya kinerja perusahaan yang dipimpinnya pada kuartal kedua ini karena anak usahanya, Telkomsel, tidak lagi bekerja secemerlang layaknya tahun-tahun sebelumnya.

Telkomsel yang sebelumnya dominan menjadi kontributor utama bagi pendapatan Telkom, pada kuartal kedua ini hanya menyumbang 7% untuk total pendapatan usaha Telkom atau sebesar Rp 778 miliar.

"Ini karena regulasi baru yang menurunkan biaya interkoneksi. Jadi, meskipun ada pertambahan sekitar lima juta pelanggan baru oleh Telkomsel tidak mampu menahan turunnya pendapatan seluler," kata Rinaldi saat menjelaskan kinerja Telkom belum lama ini.

Sementara, Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja menuturkan, penurunan yang dialami Telkomsel terjadi pada pendapatan dari layanan pascabayar Kartu Halo selama semester I 2008, turun 10% menjadi Rp 2,2 triliun dari periode yang sama 2007 sebesar Rp 2,45 triiun.

Penurunan pendapatan pascabayar itu disebabkan turunnya rata-rata penggunaan pulsa per pelanggan (average revenue per user/ARPU) kartuHalo dari sebelumnya Rp 265 ribu per bulan menjadi Rp 224 ribu per bulan.

Seperti diketahui, KartuHalo selama ini adalah penyumbang terbesar bagi ARPU campuran (blended) milik Telkomsel. Turunnya ARPU KartuHalo, secara signifikan menurunkan ARPU blended 19% atau menjadi Rp 63 ribu dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Secara keseluruhan pendapatan dari layanan suara turun hingga 15 persen, sedangkan pendapatan dari pesan singkat (SMS) turun 26 persen. Ini konsekuensi dari turunnya tarif kedua layanan tersebut masing-masing sebesar 30 persen dan 70 persen," jelas Kiskenda.

Terjebak Perang Tarif

Tidak hanya di layanan dasar seperti suara dan SMS, layanan data Telkomsel juga mulai dikeluhkan oleh pelanggan di daerah padat. Semua ini akibat Telkomsel ikut terjebak stigma penurunan tarif yang dilancarkan beberapa kompetitornya.

Sementara, Excelcomindo Pratama (XL) sebagai salah satu kompetitornya, justru mengalami perbaikan. Strategi yang dilakukan XL berhasil membuat terjadinya penambahan pelanggan baru sebesar empat juta nomor dan menaikkan menit pemakaiaan secara signifikan pada kuartal kedua lalu.

Berdasarkan catatan, XL pada kuartal kedua lalu kinerjanya memang lebih baik dibandingkan Telkomsel. Perusahaan ini mengalami kenaikan laba bersih sebesar 38% atau mencapai Rp 459 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, kinerja yang positif tersebut tetap menuntut kerja keras manajemen XL ke depannya mengingat tren aliran kas perusahaan ini cenderung negatif akibat investasi yang agresif di jaringan.

Terlepas dari itu semua, Heru Sutadi menyarankan kepada sang BUMN telekomunikasi agar membuat inovasi baru supaya pendapatannya tidak terus-terusan turun.

"Yang diperlukan adalah bagaimana operator punya strategi menarik pelanggan baru dan lama dengan menawarkan tarif yang terjangkau, layanan berkualitas, dan mengoptimalkan jaringan sehingga pendapatan tidak turun," tandasnya.

Pro atau kontra? Diskusikan saja di detikINET Forum! (rou/rou)