Ketiga lini bisnis tersebut ialah layanan telepon kabel Public Switch Telephone Network (PSTN), jaringan internet broadband Speedy, serta sambungan layanan nirkabel area terbatas Flexi.
"Makassar ditargetkan memberi kontribusi 561 miliar rupiah atau meningkat tujuh persen dari 2007 lalu," ungkap GM Telkom Kandatel Makassar, Andi Muflihuddin, ketika ditemui detikINET di kantor Divisi Regional VII, Jl. AP Pettarani, Makassar, Ujung Pandang, Kamis petang (31/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk meraih omzet yang dipatok, Kandatel Makassar akan menggenjot 20 ribu pemasangan sambungan baru telepon kabel dari 214 ribu saat ini, meraih total 7750 sambungan Speedy dari 2900 sambungan yang sudah ada, dan memasarkan Flexi hingga 496 ribu dari 214 ribu di akhir 2007 lalu. "Sekarang pengguna Flexi di Makassar sudah 315 ribu," kata Andi.
Meski Andi mengatakan dua mesin produksi utama Telkom adalah Speedy dan Flexi, namun 50%-60% pendapatan tahun sebelumnya masih didominasi telepon kabel. Pendapatan per pelanggan tiap bulan atau Average Revenue Per User (ARPU) untuk telepon kabel Rp 100 ribu, Flexi Rp 50 ribu, dan Speedy 400 ribu. "Saya rasa akhir tahun nanti kontribusi ketiganya sudah akan seimbang," katanya.
Diakui, minat akan telepon kabel tidak sebesar Flexi. Dari 1300-1400 pemasangan telepon kabel baru, tingkat churn atau pelanggan yang berhenti berlangganan justru lebih tinggi, mencapai 1500 sambungan tiap bulannya. "Memang ada minus, tapi positioning telepon kabel masih tetap belum tergantikan, misalnya untuk mengajukan kredit di bank atau lainnya."
Sementara Flexi, meski tingkat churn juga cukup tinggi atau sekitar 12 ribu per bulan, namun pemasarannya di Makassar jauh lebih tinggi. "Bisa mencapai 25 ribu sambungan per bulan," tegas Andi.
Meningkatnya minat masyarakat akan Flexi, selain dipicu gimmick pemasaran yang menarik, juga karena kian diperkuatnya kualitas jaringan layanan di cakupan Makassar. Flexi di area tersebut telah dilayani 39 menara pemancar base transceiver station (BTS).
Selain Flexi, minat akan Speedy juga cukup tinggi. Terlebih setelah pasokan 600 alat produksi didatangkan dari pusat. Andi mengakui, pemasaran Speedy sempat mandek di 2007 lalu karena kehabisan alat produksi. "Namun sekarang prospeknya cukup bagus, apalagi sejak kecepatannya mulai ditingkatkan hingga 1 Mbps."
Hal itu diakui terbilang bagus bagi masyarakat Makassar yang mengandalkan komoditas laut dan ternak sapi. "Masyarakat di Makassar kini sudah mulai familiar dengan internet," pungkas Manajer Komunikasi Divre VII, Wahyudi.
Punya berkeluh kesah seputar operator telekomunikasi di Indonesia? Sampaikan saja di detikINET Forum.
(rou/ash)