Keluhan akan kurangnya frekuensi 3G kembali tercetus saat pengambilan scene untuk acara di salah satu televisi swasta yang tengah membahas masalah telekomunikasi di Indonesia.
Tiga bos operator seluler terbesar di Indonesia: Dirut Telkomsel Kiskenda Suriahardja, Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam, dan Presdir Excelcomindo Pratama (XL) Hasnul Suhaimi, ikut meramaikan acara itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kayak selimut se-depa, ditarik ke kepala, kakinya kedinginan. Ditutup kakinya, kepala yang pusing kena angin. Serba nanggung," ujarnya yang langsung disambut gelak tawa oleh kedua rivalnya.
Padahal menurutnya, frekuensi 3G sangat penting karena 70% di antaranya dialokasikan untuk data. Sementara suara hanya 30% sisanya.
"Namun sekarang jadi kebalikannya, suara yang terpaksa lebih diutamakan karena itu yang lebih menguntungkan. Terpaksa data kami kesampingkan karena pendapatannya tak sampai sepersepuluh dari uang yang kami keluarkan untuk tender 3G," ujarnya menjawab keluhan salah satu pelanggan soal minimnya perhatian untuk layanan data.
"Jadi kalau kami harus beli 5 MHz lagi untuk frekuensi 3G dengan harga tender, bisa nggak balik duitnya," keluh Hasnul yang diamini Johnny dan Kiskenda.
Punya masalah dengan koneksi 3G? Tumpahkan saja semuanya di detikINET Forum, sekarang juga! (rou/rou)