Masa depan internet Indonesia tidak akan hanya bergantung pada menara BTS dan jaringan seluler di darat. GSMA melihat kombinasi 5G, kecerdasan buatan (AI), IoT hingga konektivitas satelit akan memainkan peran semakin besar, terutama mengingat kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan.
GSMA menilai 5G, AI dan IoT akan menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan di Asia Pasifik. Sektor manufaktur dan jasa secara bersama-sama diperkirakan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi dari teknologi seluler canggih.
Peran operator pun mulai bergeser. Mereka tidak lagi hanya menjual konektivitas, tetapi semakin masuk ke infrastruktur AI, cloud dan solusi enterprise.
Di Indonesia, GSMA menyoroti langkah operator dalam membangun kemampuan sovereign AI. Indosat Ooredoo Hutchison antara lain disebut melalui pengembangan sovereign cloud bertenaga Nvidia dan layanan AI, sedangkan Telkom Indonesia mengembangkan AI untuk enterprise dan pemerintah melalui AI Center of Excellence serta kemitraan ekosistem.
Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman mengatakan AI mulai muncul sebagai salah satu mesin monetisasi dan use case penting bagi 5G.
Dari CCTV Pintar hingga Kesehatan
Menurut Julian, manfaat AI dan konektivitas tidak terbatas pada perusahaan besar atau data center.
CCTV di rumah maupun usaha kecil, misalnya, dapat menggunakan AI bukan hanya untuk merekam gambar, tetapi juga menginterpretasikan apa yang dilihat kamera secara real-time.
Ia juga mencontohkan layanan IoT di Thailand berupa sistem penyaring air yang terkoneksi ke jaringan. Perangkat dapat menjadi bagian dari layanan berlangganan yang memungkinkan perawatan dan penggantian filter dilakukan secara terintegrasi.
Bagi usaha kecil, kombinasi konektivitas dan AI dapat membantu menerima pembayaran digital, bertransaksi jarak jauh hingga membuat materi pemasaran yang lebih menarik menggunakan smartphone.
Jeanette Whyte, Head of Public Affairs and External Affairs APAC GSMA, menambahkan teknologi 5G dan AI juga berpeluang dimanfaatkan di bidang kesehatan, termasuk layanan dan prosedur yang dilakukan secara remote.
Menurutnya, penggunaan teknologi semacam ini bukan lagi sekadar aspirasi dan mulai diterapkan di sejumlah negara. "Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, yang mungkin tidak memiliki tenaga ahli tersebut, hal itu bisa dimanfaatkan," ujarnya.
Teknologi tersebut berpotensi relevan bagi Indonesia karena tenaga ahli tidak selalu tersedia di setiap wilayah.
(afr/afr)