Rendahnya adopsi jaringan 5G di Indonesia dinilai membuka peluang untuk langsung mengadopsi teknologi 6G. Saat ini, penetrasi 5G masih di bawah 10%, padahal komersialisasi jaringan seluler generasi kelima tersebut sudah dilakukan sejak pertengahan 2021.
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno mengatakan, dengan penetrasi 5G nasional yang masih rendah sehingga dinilai Indonesia tidak harus terpaku mengejar ketertinggalan 5G apabila nantinya 6G menawarkan manfaat ekonomi yang lebih besar.
"Kalau 5G lelet-lelet, lari ke 6G tidak ada masalah. Loncat saja. Tergantung nanti kebutuhan pasar dan keekonomiannya," kata Sarwoto usai forum diskusi mengenai pemanfaatan pita frekuensi 6 GHz dan kesiapan menuju 6G, Kamis (8/7/2026).
Sarwoto menuturkan sejumlah negara telah mencatatkan penetrasi layanan 5G di atas 70%. Sementara di Indonesia, adopsinya masih di bawah 10% sehingga pengembangan jaringan 5G ini belum optimal.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi pelajaran agar Indonesia tidak kembali terlambat dalam menyiapkan teknologi generasi berikutnya. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pemanfaatan spektrum yang ideal dan pengembangan 6G harus dimulai sejak sekarang meski layanan 6G sendiri belum tersedia secara komersial.
"Kalau kita tidak well-planned, tahu-tahu lingkungan internasional sudah siap, sementara kita baru mulai mempersiapkan," ucapnya.
Sarwoto menjelaskan, kemungkinan Indonesia melompat ke 6G bukan berarti mengabaikan pembangunan 5G. Menurut dia, yang perlu dipersiapkan sejak dini adalah 'jalan tol-nya', yakni spektrum frekuensi yang nantinya dapat digunakan untuk berbagai teknologi, termasuk 5G maupun 6G.
"Kalau jalan rayanya sudah ada, nanti tergantung mau dipakai teknologi apa di atasnya. Bisa 5G, bisa nanti langsung berkembang ke 6G," katanya.
Namun demikian, ia menegaskan keputusan operator seluler dalam memperluas jaringan tetap akan mempertimbangkan aspek bisnis. Saat ini, investasi pembangunan jaringan 5G secara masif dinilai belum sepenuhnya menarik karena jumlah pengguna perangkat yang telah mendukung 5G masih relatif kecil.
"Kalau saya operator, saya pasti lihat dulu berapa banyak handset 5G yang digunakan masyarakat. Kalau penggunanya belum banyak, tentu investasi besar-besaran belum ekonomis," tuturnya.
Selain perangkat, Sarwoto menilai tantangan lain adalah belum banyaknya pemanfaatan (use case) 5G di berbagai sektor industri. Menurutnya, adopsi teknologi baru akan berkembang apabila mampu memberikan nilai tambah yang jelas bagi dunia usaha maupun masyarakat.
Mastel mendorong pemerintah mulai menyiapkan kebijakan spektrum secara lebih matang agar Indonesia tidak kembali tertinggal ketika teknologi 6G mulai memasuki tahap implementasi global.
Persiapan tersebut juga perlu diiringi harmonisasi standar internasional, kesiapan perangkat, hingga pengembangan ekosistem digital agar manfaat teknologi generasi berikutnya dapat segera dirasakan ketika waktunya tiba.
Simak Video "Video: Intip Spesifikasi dan Harga vivo V50 yang Resmi Dirilis di RI"
(agt/fay)