Investor Asing Siap Bangun Serat Optik Jakarta-Perth
- detikInet
Jakarta -
Dua investor asing telah menyatakan minatnya kepada pemerintah untuk membangun infrastruktur backbone internasional serat optik mulai dari Jakarta hingga Perth, Australia, tanpa pamrih.Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar pun menyambut baik keinginan tersebut. Disebutkan, kedua investor asing itu bernama Indigo dan Moratel.Basuki mengatakan, kedua investor tersebut tidak meminta kompensasi apa-apa atas pembangunan backbone yang bisa mencapai ratusan ribu kilometer itu."Mereka murni berbisnis dengan maksud akan menyewakan infrastrukturnya. Saya rasa itu bagus, karena selain memberikan rute alternatif, tarif internet internasional juga akan lebih bersaing," ujarnya kepada detikINET, Kamis (27/9/2007).Australia, kata Basuki, merupakan jalur alternatif yang diinginkan pemerintah sebagai backbone internasional, mengingat jalur biasa yang ditempuh untuk mencapai tier-1 melalui Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Hong Kong, pernah mengalami gangguan hebat akibat gempa di Taiwan beberapa waktu lalu.Selain kedua investor tersebut, dirjen juga menyebutkan ada 10 perusahaan yang meminta izin penyelenggaraan jaringan tertutup (jartup) dengan penawaran membangun backbone internasional ke Singapura."Tiga perusahaan penyelenggara jaringan dan lima operator sudah kami berikan lisensi karena telah menyatakan siap membangun. Namun, bila komitmen mereka tak dipenuhi, pemerintah bisa mencabut izinnya sewaktu-waktu," tukas Basuki. Sayangnya ia tidak mengingat nama perusahaan tersebut satu-persatu.Sejatinya, Basuki mengaku senang melihat infrastruktur jaringan di Indonesia yang terus akan membaik, misalnya saja pembangunan serat optik Palapa Ring di kawasan Timur serta pembangunan backbone internasional Jakarta-Singapura oleh pemenang tender SLI, Bakrie Telecom, mulai tahun depan menyusul Kupang-Darwin lima tahun berikutnya. Dengan semakin kuatnya infrastruktur serat optik di seluruh Indonesia, Basuki optimistis masyarakat Indonesia akan mendapatkan konektivitas akses tingkat tinggi hingga ke rumah-rumah (Fiber to the Home), di mana selama masa transisi pemerintah akan membuka kembali tender layanan akses nirkabel pita lebar atau broadband wireless access (BWA).Seiring hal tersebut, lanjut dia, seluruh desa-desa tertinggal juga akan terlayani fasilitas teleponi dasar melalui program Universal Service Obligation (USO) yang kemudian bisa di-upgrade kemampuannya menjadi layanan teleponi berbasis internet."Saya harap semuanya berjalan dengan baik dan lancar sehingga masyarakat kita bisa segera menikmati triple play atau telekomunikasi suara, data dan internet dengan tarif terjangkau," tandas Basuki.
(rou/ash)