Indosat: Kami Akan Makin Fleksibel Turunkan Harga
- detikInet
Jakarta -
PT Indosat Tbk. menyambut baik rencana penurunan tarif interkoneksi seluler seiring diberlakukannya skema berbasis biaya pada awal 2008. Ini dinilai akan meningkatkan traffic pelanggan seluler lintas operator. Direktur Pemasaran PT Indosat, Guntur S. Siboro, mengatakan interkoneksi merupakan salah satu komponen utama dalam menentukan tarif layanan seluler. Dengan demikian, skema penurunan tersebut menurutnya bisa membuat Indosat lebih fleksibel dalam menurunkan harga. "Dengan turunnya cost, kami lebih berpeluang memberikan harga yang kompetitif ke pelanggan," ujarnya di sela-sela Media Briefing Edukasi Sinyal Kuat Indosat di Kantor Pusat PT Indosat, Jakarta, Selasa (31/7/2007). Selain memiliki layanan seluler, Indosat juga memiliki layanan telepon tetap. Skema berbasis biaya tersebut diperkirakan akan berimbas juga pada layanan telepon tetap nirkabel StarOne.Guntur mengatakan, saat ini StarOne masih menerapkan tarif promosi Rp 19 per menit untuk sesama StarOne. "Jadi sampai migrasi (frekuensi) kelar, tidak ada perubahan tarif. Namun, setelah itu tarif akan kita pertimbangkan lagi, bisa naik bisa turun," katanya. Mengacu pada skema berbasis biaya yang rencananya akan diterapkan pada awal 2008, tarif lokal dikhawatirkan naik karena tidak ada lagi subsidi. Guntur mengiyakan kemungkinan itu, namun tidak mau mengomentari lebih jauh. Menurut Guntur, tarif lokal sebenarnya antar pelanggan StarOne adalah Rp 197 per menit, dari StarOne ke pelanggan seluler Indosat Rp 300 per menit, sedangkan dari StarOne ke pelanggan non-seluler Indosat adalah Rp 700 per menit. Ini mengindikasikan ada kemungkinan tarif sesama StarOne meningkat lebih dari 10 kali lipat dari tarif promosi (Rp 19) ke tarif sebenarnya (Rp 197). Namun Guntur tak mau mengonfirmasi hal itu. Target Pelanggan dan InfrastrukturUntuk mencapai target 21-23 juta pelanggan sebelum akhir 2007 Indosat mengacu pada kekuatan infrastruktur jaringan dan harga layanan. "Dengan price yang bagus dan sinyal yang kuat, bikin kami lebih pede," tukas Guntur. Saat ini Indosat diklaim memiliki lebih dari 20 juta pelanggan seluler dan 600.000 pelanggan StarOne. Uniknya, separuh pelanggan StarOne berada di Surabaya sedangkan di Jakarta tak sampai sepersepuluhnya. Hingga akhir tahun 2007 Indosat menargetkan pembangunan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) sebanyak 3.500-4.000 unit. Untuk mewujudkannya, Indosat memiliki anggaran belanja modal (Capital Expenditure) 2007 sebesar US$ 1 miliar. Guntur mengatakan, hingga paruh 2007 Indosat telah membangun lebih dari 1.500 BTS. Awal 2007, tuturnya, Indosat baru memiliki 7.200 BTS. Sebelum akhir tahun ditargetkan Indosat akan memiliki lebih dari 10.000 BTS. "Dengan BTS StarOne, total jadi sekitar 12.000," ia memaparkan. StarOne sendiri saat ini sudah memiliki 1.100 BTS di 23 kota. Hingga akhir tahun ditargetkan akan ada 1.500 BTS StarOne dengan jangkauan lebih dari 40 kota. Dalam memperkuat jaringan infrastrukturnya, Guntur mengatakan Indosat membagi wilayah-wilayah berdasarkan vendor penyedia infrastrukturnya. Untuk infrastruktur seluler, Indosat menunjuk empat vendor yaitu Alcatel (Kalimantan), Ericsson (Jakarta-Banten), Nokia Siemens (Jawa dan Sumatera), serta Huawei (Sulawesi, Maluku, dan Papua). Untuk 3G Indosat menunjuk Ericsson (Jakarta), Nokia Siemens (Pulau Jawa luar Jakarta), dan Huawei (Balikpapan). Sedangkan untuk CDMA, Indosat menunjuk Huawei (Medan, NAD, dan Jakarta) dan ZTE (20 kota lainnya). BTS seluler dan CDMA yang dimiliki saat ini oleh Indosat, menurut Guntur, memberikan cakupan pada penduduk sebesar 95 persen di wilayah Kabupaten dan 60-70 persen untuk wilayah Kecamatan.
(wsh/wsh)