Menjelang RUPSLB
SP Telkom Tuntut Semua Direksi Lama Diganti
- detikInet
Jakarta -
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Telkom Tbk. akan berlangsung dalam hitungan jam. Suara pergantian direksi semakin kencang dihembuskan, termasuk oleh Serikat Pekerja (SP) Telkom sendiri.Dian Rachmawan, pendiri SP Telkom yang dikabarkan bakal menjadi salah satu calon direksi Telkom, mengaku tidak ambil pusing atas pencalonan dirinya."Wah, kalau saya mah pasti lewat. Yang saya pedulikan cuma reformasi di tubuh Telkom. Saya kan sudah 20 tahun lebih di Telkom," ujarnya ketika ketika dihubungi detikINET, Rabu (28/2/2007).Untuk melancarkan gerakan reformasi tersebut, ia menuturkan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Menneg BUMN Sugiharto tentang pernyataan sikap SP berikut alasan mengapa direksi lama Telkom harus segera diganti.Isi SuratMelalui surat No.08/SP-TELKOM/DPP/II/2007/RHS tanggal 23 Februari 2007 yang ditandatangani oleh Ketua Umum SP Telkom Iskandar Zamzami dan Wakil Sekjen SP Telkom Gatot Wahyudianto, SP mengajukan sikap.Isi surat tersebut menyebutkan, performansi Telkom sepanjang 2005-2006 ada yang menggembirakan dan ada yang menyedihkan. Kondisi yang menggembirakanadalah kenaikan harga saham di BEJ dan NYSE sehingga nilai kapitalisasi pasar menjadi US$17 triliun. "Tapi ini tidak fundamental dan bersifat jangka pendek serta sangat rawan, mengingat angka-angka bisa bias dan berbalik arah secara cepat," Dian menuturkan.Adapun kondisi yang menyedihkan, menurutnya, :1. Disharmoni atau ketidakserasian antar sesama anggota direksi, dan direksi dengan komisaris yang dipicu oleh ketidakmampuan dan ketidakberdayaan leadership menjadi ladang subur bagi iklim kerja yang tidak sehat, a.l. munculnya faksi-faksi yang mempertajam perbedaan pendapat, ketidakpercayaan yang merambat dari atas ke jajaran bawah. Akibatnya proses pengambilan keputusan menjadi lambat, saling pingpong, terciptanya budaya menyalahkan antar unit yang pada akhirnya menghasilkan kisah-kisah sedih.2. Pencideraan citra atau imej secara terbuka dan tanpa dasar dari pimpinan perseroan bahwa Telkom tidak melakukan Tata Kelola Perusahaan sangat mencederai dan menyakiti seluruh karyawan, mengingat Telkom terus berupaya untuk menjadi perusahaan yang sangat sehat, pembayar terbesar dividen dan pajak bagi negara yang secara jelas mempunyai historis yang unggul dibandingkan dengan BUMN manapun lainnya.3. Pertumbuhan usaha dan pendapatan usaha Telkom secara agregat memang mengalami pertumbuhan, namun bila dicermati sangat jelas terlihat pertumbuhan yang tidak seimbang antara pertumbuhan pesat bisnis selular (yang ditopang satu satunya oleh Telkomsel) dan pertumbuhan negatif yang mengkhawatirkan dan berbahaya dari bisnis telepon tetap (pertumbuhan minus 6%).4. Secara fundamental, Telkom sangat membutuhkan dua pilar bisnis (telepon selular dan telepon tetap) dan menjadi sangat berbahaya hanya mengandalkan pertumbuhan bisnis Telkomsel.5. Pengembangan telepon Flexi yang sebenarnya sejak awal sudah tumbuh menjadi bisnis dan lokomotif kurva kedua bagi Telkom dengan sejak masuknya formatur direksi (2005-2006) saat ini telah mengalami stagnasi, dengan fakta-fakta sebagai berikut- Penambahan pelanggan Flexi hanya sebesar 3% selama kurun waktu 2006 (dari 4,062 juta pada akhir 2005 menjadi 4,176 juta pada akhir 2006) yang semata-mata disebabkan kebijakan direksi yang tidak jelas (reorganisasi yang membuat mandul struktur divisi Flexi) dan rendahnya penyerapan Capex (capital expenditure/anggaran belanja) akibat penundaan pembangunan jaringan Flexi.- Penyerapan Capex Flexi menurun tajam yaitu Rp 965 miliar pada 2005 dan menurun lagi menjadi hanya sebesar Rp 175 miliar pada 2006. Sangat kontradiktif bila dibandingkan dengan penyerapan Capex Telkomsel yang tercatat (posisi September 2006) sebesar Rp 8,733 triliun. Penurunan penyerapan Capex Flexi bukan akibat saving dari mekanisme e-auction, namun lebih pada ketidakmampuan dan ketidakseriusan direksi menumbuhkembangkan bisnis telepon tetap melalui Flexi.- Masalah perpindahan frekuensi dari 1900 Mhz ke spektrum baru 800 Mhz di wilayah Divre II Jakarta dan Divre III (Jabar & Banten) juga mengalami kendala. Belum terlihat adanya persiapan migrasi pada jaringan eksisting Flexi meskipun tenggat waktu migrasi frekuensi sudah menjadi sangat dekat (31 Desember 2007). Hal ini kelak akan menyebabkan persoalan sendiri baik bagi Telkom maupun bagi pelanggan Flexi.- Sehingga persoalan di atas secara akumulatif dan signifikan menyebabkan penurunan marketshare Flexi, dari 84% pada tahun 2005 menjadi 69.3% pada 2006. Sementara Esia (yang hanya beroperasi di dua wilayah Divre) naik dari 10% menjadi 25,7%. Dan dapat dipastikan pada tahun berjalan 2007 ini akan terjadi degradasi berkelanjutan bila tidak ada upaya 'turn-around'."Selanjutnya, semoga RUPSLB tanggal 28 Februari 2007 nanti bisa mengganti BoD (board of director) lama dan menetapkan BoD baru," tandas Dian. Adapun kriteria dirut yang diajukan ke Menneg BUMN:1. Paham dan pengalaman tentang industri, bisnis dan teknologi telekomunikasi2. Agar utamakan kader terbaik internal yang mampu kembalikan stabilitas Telkom3. Bijaksana, akomodatif, dan miliki strong leadership yang diyakini bisa mengayomi seluruh jajaran4. Dapat diterima di internal Telkom dan dunia bisnis (eksternal).5. Miliki kapasitas dalam tingkatkan nilai perusahaan dan ciptakan iklim kerja yang harmonis.6. Jalankan falsafah Bapak Kepemimpinan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo - di depan memberi teladan, Ing madyo mangun karso - di tengah membangun karya, Tut wuri handayani - di belakang memberi dorongan.
(rou/ash)