Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Eropa Sediakan Klinik Detox untuk Pecandu Game

Eropa Sediakan Klinik Detox untuk Pecandu Game


- detikInet

Amsterdam - Klinik detox (detoksifikasi) untuk ketergantungan obat mungkin sudah biasa. Tapi, klinik detox untuk ketergantungan game? Kini, pusat kecanduan di Belanda sudah mempunyai klinik detoksifikasi untuk menyembuhkan pasien yang kecanduan game. Klinik ini adalah yang pertama di Eropa.Sejak Januari 2006, klinik tersebut telah merawat lebih dari 20 pecandu game yang berumur antara 13 dan 30 tahun. Beberapa diantaranya bahkan telah menunjukkan gejala memprihatinkan seperti berkeringat, bergetar hingga bergidik disaat mereka melihat perangkat komputer.Program detoksifikasi ini sudah tersedia sejak Juli 2005. Pasien akan dilibatkan dalam terapi berupa diskusi dengan terapis yang akan memberi alternatif mengenai aktivitas lain selain bermain game.Terapi dilakukan selama 4 hingga 8 minggu, tergantung dari seberapa parah ketergantungan si pasien.Video game memang nampak tak membahayakan. Namun bila kecanduan melanda, gejalanya sama saja seperti kecanduan narkoba dan judi. "Susah untuk menghilangkannya," jelas Keith Bakker, direktur Smith & Jones Addiction Consultants yang dilansir Associated Press dan dikutip detikINET, Sabtu (10/06/2006)."Kami pernah menemui anak-anak yang tidak tahu bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan cara tatap muka, karena selama tiga tahun mereka hanya berkomunikasi dengan orang lain melalui komputer," tutur Bakker.Sebut saja Tim, seorang pasien yang sedang dalam pengobatan menyetujui untuk ikuti terapi ini. Tim telah tergolong ketergantungan game, karena ia mulai tak mau meninggalkan kamarnya untuk makan, bahkan belakangan dia mulai mengkonsumsi obat-obatan sebagai dopping agar bisa terus nge-game di depan komputer. Setelah mengikuti terapi, Tim mengaku bisa mengalihkan kegilaannya dengan hobi yang lain.Menurut Bakker, tanda-tanda ketergantungan game itu mudah sekali terdeteksi. "Berkurangnya aktifitas sehari-hari, menghabiskan waktu berjam-jan di depan komputer dan tidak mempunyai kehidupan sosial yang normal," jelas Bakker. (amz) (annisa/)





Hide Ads