Kecepatan Internet di Indonesia Dinilai Sudah Memadai, Tapi...

ADVERTISEMENT

Kecepatan Internet di Indonesia Dinilai Sudah Memadai, Tapi...

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Rabu, 09 Feb 2022 18:45 WIB
Ilustrasi jaringan internet lemot
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Dalam data yang dirilis Speedtest by Ookla lewat Speedtest Global Index Desember 2021, kecepatan internet Indonesia ditempatkan di peringkat ke-113 dari 138 negara.

Kecepatan internet di Indonesia ini tercatat mengalami penurunan, bahkan lebih rendah dari Laos dan Kamboja, dengan kecepatan download rata-rata hanya 15 Mbps, dan kecepatan upload rata-rata 9,16 Mbps.

Menurut Agung Harsoyo, Dosen Sekolah Teknik Elektronika dan Informasi (STEI) ITB, kecepatan download dan upload ini merupakan kecepatan rata-rata internet di seluruh Indonesia. Ia pun menyebut sebenarnya kecepatan internet operator seluler di Indonesia tak kalah dengan operator seluler di kota-kota besar dunia seperti Tokyo dan Sydney.

Hanya saja, Agung menyebut kecepatan yang mumpuni tersebut hanya ada di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, dan Semarang.

"Buktinya internet kita mumpuni dapat dilihat dari pengemudi ojek online. Dengan kecepatan dan kualitas internet yang handal mereka masih bisa melayanani masyarakat dengan baik. Itu membuktikan kualitas internet di beberapa kota besar di Indonesia masih bisa diandalkan. Tanpa ada kualitas dan kecepatan yang baik, mereka akan kesulitan untuk mendapatkan order," ungkap Agung dalam keterangan yang diterima detikINET.

Meski kecepatan internet di beberapa kota besar di Indonesia sudah terbilang bagus, namun Agung mengakui kualitas mobile broadband di luar kota-kota besar masih perlu ditingkatkan. Ini disebabkan kualitas internet di Indonesia belum seragam antar wilayah.

Ketidakseragaman ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti ketersediaan fiber optik dan jumlah atau kerapatan BTS operator selular yang berada di suatu wilayah. Jika fiber optik dan kerapatan BTS yang dibangun oleh operator sudah banyak, maka akses mobile internet di Indonesia akan semakin cepat dan seragam.

""Misalnya saja internet di kota atau kabupaten di wilayah Papua, Maluku, dan daerah lainnya tidak akan seperti kota-kota besar. Namun demikian kecepatan internet di wilayah tersebut dimasukkan ke dalam perhitungan yang dibuat oleh Speedtest," kilahnya.

Mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) ini menjelaskan kalau jaringan broadband internet mobile di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ketersediaan fiber optik sebagai backbone dan kerapatan BTS yang dimiliki operator seluler.

"Sehingga kecepatan internet mobile yang ada di luar kota-kota besar tersebut memberikan dampak penurunan terhadap rata-rata kecepatan internet di Indonesia," jelas Agung.

Namun demikian, meski fiber optik belum merata dan pembangunan kerapatan BTS masih belum seperti yang diharapkan, Agung sangat yakin untuk kecepatan internet di Indonesia masih dapat mengakses dengan baik layanan social media, video streaming seperti YouTube atau Netflix, video conference, virtual meeting menggunakan Zoom atau Google Meet, maupun game online.

Dengan kecepatan download internet 15 Mbps yang ada di Indonesia saat ini sudah dapat mencukupi kebutuhan masyarakat, termasuk untuk mendukung Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Lanjut Agung, saat ini masyarakat Indonesia belum membutuhkan speed yang sangat cepat untuk layanan mobile broadband. Secara teknis, untuk dapat menikmati layanan social media, video streaming, video conference, virtual meeting, maupun game online, minimal speed yang dibutuhkan 2 Mbps.

Kalau untuk video streaming seperti YouTube, dinilai Agung membutuhkan bandwidth yang kecil karena penyelenggara video streaming sudah menerapkan Content Delivery Network (CDN) yang servernya sudah ada di operator nasional.

"Untuk kebutuhan normal masyarakat Indonesia, speed internet kita yang saat ini 15 Mbps menurut saya sudah jauh lebih dari cukup. Apa lagi konsumsi mobile internet masyarakat Indonesia masih belum terlalu tinggi. Konsumsi rata-rata mobile internet di Indonesia 5 giga per bulan, paling banyak 10 giga. Kalau demand sudah sangat tinggi, operator selular pasti akan menambah kapasitasnya sesuai kebutuhan masyarakat. Kalau permintaan belum tinggi namun kapasitas dibuat sangat besar maka akan menghabiskan CAPEX operator," tutup Agung.



Simak Video "10 Negara dengan Kecepatan Internet Tertinggi di Dunia "
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT