Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Satelit Made In Indonesia Meluncur Agustus 2006

Satelit Made In Indonesia Meluncur Agustus 2006


- detikInet

Jakarta - Tahun 2006 merupakan tahun yang sangat penting bagi bidang persatelitan Indonesia. Apalagi di tahun ini, Indonesia akan meluncurkan satelit pertama buatan negeri sendiri.Hal itu diungkap Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Tonda Priyanto. Adalah INASAT-1, satelit yang dibuat dan didesain sendiri oleh Indonesia untuk pertama kalinya. Menurutnya, INASAT-1 merupakan satelit metodologi penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN. "Informasinya sih satelit itu akan meluncur Juli. Berhubung itu satelit kecil, rencananya mau digandeng dengan satelit India, meluncurnya juga dari India. Tapi saya belum tahu tepatnya tanggal berapa, saya masih nunggu konfirmasi dari pihak LAPAN yang ngurusin satelit ini," kata Tonda ketika dihubungi detikINET, Rabu (10/5/2006).Sementara itu, Deputi Ketua LAPAN Bidang Dirgantara, Agus Nuryanto ketika dikonfirmasikan mengaku belum bisa memastikan jadwal peluncurannya."Pas kami ngomong sama India, waktu luncurnya masih tentatif. Tadinya dijadwalkan Juli ini, namun diundur jadi awal Agustus. Ya kita lihat saja nanti, semoga tidak diundur-undur lagi," katanya pada detikINET.INASAT-1, seperti dikutip dari situs LAPAN, adalah satelit Nano alias satelit yang menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 kg. Satelit itu dirancang dengan misi untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan (berupa fluks magnet didefinisikan sebagai muatan ilmiah) maupun housekeeping yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit. Adapun satelit itu dirancang bersama oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), khususnya Pusat Teknologi Elektronika (Pustek) Dirgantara. Berbekal nota kesepakatan antara LAPAN, Dirgantara Indonesia, serta dukungan dana dari Riset Unggulan Kemandirian Kedirgantaraan 2003, maka dimulailah rancangan satelit Nano dengan nama Inasat-1 (Indonesia Nano Satelit-1).Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu, sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km. Skenario OperasiSatelit yang lama pengembangannya sekitar 10 bulan, sejak Februari hingga November 2003, mempunyai dua skenario operasi. Pertama, satelit akan mengirimkan datanya ketika berada di atas Indonesia. Kedua, ketika di luar Indonesia, satelit hanya akan mengumpulkan data tanpa mengirimkannya data ke bumi. Pengaturan skenario itu akan dilakukan secara otomatis melalui program On Board Computer (OBC) berdasarkan data bujur dan lintang yang dihitung dan diprediksi secara otomatis oleh (OBC) atau Flight Processor dari satelit.INASAT-1 merupakan proyek yang menghabiskan biaya Rp 725 juta. Satelit yang menggunakan saluran komunikasi VHF/UHF itu diperkirakan sanggup mengorbit selama 6 hingga 12 bulan. (rou)(Catatan Redaksi:Bagi pemberi komentar, mohon tidak mengisi kolom nama dengan kata/kalimat yang tak lazim sebagai nama orang. Nama samaran diperbolehkan. Penggisian nama dengan nama milik orang lain (public figure), alamat situs, merek, nama institusi tertentu dan/atau cenderung vulgar/ofensif/SARA, tidak diperkenankan.). (rouzni/)







Hide Ads