Mimpi Merdeka Sinyal dan Asa Satelit Satria Satukan Nusantara

Mimpi Merdeka Sinyal dan Asa Satelit Satria Satukan Nusantara

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 17 Agu 2021 22:00 WIB
Sejumlah siswa kelas 6 SDN Sumberaji 2 mengerjakan tugas pelajaran sekolah secara daring atau online di kawasan makam Dusun Ngapus, Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Mimpi Merdeka Sinyal dan Asa Satelit Satria Satukan Nusantara. Foto: ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF
Jakarta -

Tiga anak perempuan tampak lesehan di pinggir sungai dengan alas duduk seadanya. Sesekali mereka melihat smartphone, lalu mencocokkan sesuatu dengan kertas dan buku yang berserakan di antara mereka. Ketiganya sedang tekun mengikuti sekolah online.

Anak-anak ini, para pelajar di Kecamatan Kinal, Kabupaten Kaur, Bengkulu, butuh perjuangan ekstra mengikuti kegiatan belajar saat pandemi COVID-19. Bagaimana tidak, di Kecamatan dengan 14 desa itu tidak ada sinyal telekomunikasi, apalagi untuk terhubung ke internet. Siswa harus menempuh perjalanan setidaknya tiga kilometer setiap hari demi akses internet. Di mana ada sinyal ditemukan, di situ mereka akan berhenti dan mengerjakan tugas sekolah.

"Hal yang menyedihkan ini bukan hanya (dialami) adik-adik sekolah. Warga mau menghubungi keluarga itu susah, mesti janjian dulu. Misalnya, SMS dulu mau telepon, baru telepon kita. Karena kalau kita telepon mereka itu nggak bakalan nyambung," tutur tokoh pemuda setempat bernama Tomi Defantri.

Siswa-siswa di Kecamatan Kanal, Kabupaten Kaur, Bengkulu, kesulitan mengikuti belajar online, karena ketiadaan infrastruktur telekomunikasi di sana.Pelajar di Kecamatan Kinal, Kabupaten Kaur, Bengkulu, kesulitan mengikuti belajar online, karena ketiadaan infrastruktur telekomunikasi di sana. Foto: Tomi Defantri

Ironis mengetahui bahwa di tengah laju kecanggihan dan perkembangan teknologi yang pesat, cerita seperti ini masih kerap kita dengar. Adik-adik di Kecamatan Kinal bukan satu-satunya yang masih harus berjuang mendapatkan sinyal telekomunikasi. Di berbagai daerah di Indonesia, banyak pejuang sinyal yang susah payah melawan kesenjangan digital.

Makin memprihatinkan melihat kenyataan bahwa pandemi COVID-19 telah menambah satu kebutuhan pokok baru masyarakat: akses internet. Di saat hampir semua orang kini harus sekolah dan bekerja di rumah, kebutuhan untuk mencari informasi dengan cepat, dan selalu terhubung dengan kerabat, akses internet tentu saja merupakan keniscayaan.

Nyatanya, di HUT RI ke-76 mimpi Indonesia merdeka sinyal belum terwujud. Menurut Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), ada 12.548 desa/kelurahan belum terjangkau internet. Pemicu utama kesenjangan digital ini adalah masih belum meratanya pembangunan infrastruktur, khususnya untuk telekomunikasi di daerah terpencil.

Selanjutnya: Rampungkan Tol Langit dan Kebut Satelit Satria