Pelanggan Esia Melonjak 153%
Bakrie Incar Laba Rp 7 Miliar di 2006
- detikInet
Jakarta -
PT Bakrie Telecom Tbk mencatatkan angka pertumbuhan yang cukup fantastis di 2005. Jumlah pelanggan Esia di tahun itu mencapai 487 ribu atau tumbuh sebesar 153,6 persen terhadap jumlah pelanggan di 2004 yang sebesar 192 ribu. Pencapaian jumlah pelanggan itu juga memenuhi target yang dicanangkan oleh Bakrie semula, yaitu sebesar 408 ribu pelanggan. Bahkan melampaui sebesar 19,3 persen.Hal itu terungkap setelah Chief Financial Officer Bakrie Telecom Jastiro Abi, menyerahkan laporan keuangan tahun buku 2005 perusahaannya, yang diklaim telah diaudit Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan Bursa Efek Jakarta (BEJ).Oleh sebab itu, Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Novyan Bakrie, merasa optimis dalam menargetkan jumlah pelanggan sebesar 1,3 juta, pendapatan kotor sebesar Rp 891 miliar, serta mulai membukukan laba sebesar Rp 7 miliar."Dengan melihat jumlah pelanggan kami yang mencapai 487 ribu di akhir tahun 2005, dan tingkat aktivasi bersih pelanggan Esia (net additions) pada kuartal terakhir 2005 yang mencapai lebih dari 180 ribu, dan ditambah dengan adanya area layanan baru kami di 15 kota di Jawa Barat dan Banten, kami optimis target tersebut dapat tercapai di tahun 2006," kata Anindya dalam keterangan tertulisnya pada detikINET, Rabu (15/3/2006).Operator Esia itu sebelumnya juga mencatatkan sahamnya di BEJ per 3 Pebruari 2006 lalu dan membukukan beberapa peningkatan yang signifikan dari segi keuangan. Pendapatan kotor (gross revenue) operator itu di tahun 2005 mencapai Rp 369 miliar, atau meningkat 34,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, Rp 275 miliar. Sedangkan pendapatan bersih (net revenue) penyedia layanan telepon tetap atau Fixed Wireless Access (FWA) itu mencapai Rp 244 miliar, atau meningkat sebesar 50,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yakni Rp 162 miliar.Dalam keterangannya juga dituliskan, bahwa jumlah Earning Before Interest Tax, Depreciation and Amortization (EBITDA) tercatat sebesar Rp 24 miliar. Pencapaian EBITDA ini diklaim lebih kecil 17,3 persen dibandingkan tahun lalu, namun masih lebih tinggi dari proyeksi semula, Rp 20 miliar. Efektivitas KampanyeMenurut Jastiro, kampanye dan promosi gencar yang mereka lakukan di 2005 untuk produk layanan Esia terbilang efektif, di mana hasilnya terlihat pada pertumbuhan pelanggan yang cukup signifikan. "Salah satu contohnya adalah program TalkTime Esia yang kami luncurkan sejak bulan Agustus 2005 lalu, yang direspon dengan sangat baik oleh masyarakat," kata Jastiro.Masih menurut dia, efektifitas kampanye itu juga tercermin dari Average Revenue Per User (ARPU) bulanan pelanggan Esia yang mencapai rata-rata sebesar Rp 116 ribu, dan persentase pengguna yang berhenti berlangganan (churn rate) yang cukup rendah, yaitu 3,5 persen per bulan.Sebagai pemain yang masih dalam tahap pengembangan, seperti diutarakan Jastiro, Esia pada tahun lalu secara intensif menggelar jaringan dan memperluas cakupan layanan di area lisensi mereka, yaitu di DKI, Jawa Barat dan Banten. Oleh karena itu, biaya modal (capital expenditure) yang ditanamkan, menyebabkan peningkatan biaya depresiasi. Namun, operator yang layanannya menerapkan platform CDMA 2000-1X itu merasa berhasil menekan rugi bersih, dari sebelumnya Rp 298 miliar menjadi Rp 144 miliar. Hasil ini juga diklaim lebih baik dari proyeksi rugi bersih yang mencapai 150 miliar.Setelah gagal memperoleh lisensi 3G, Bakrie juga berencana menerapkan teknologi CDMA-EVDO untuk menyelenggarakan layanan setara 3G pada semester kedua 2006 di kota Bandung dan Jakarta. Selain itu, operator itu juga berencana untuk memperluas wilayah layanannya secara nasional dengan mengimplementasikan pola kerjasama Mobile Virtual Network Operator (MVNO) dengan Indosat. (rou)
(rouzni/)