Indonesia Gelar 5G Tahun 2021, Ini Tantangannya

Indonesia Gelar 5G Tahun 2021, Ini Tantangannya

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 25 Des 2020 17:32 WIB
LAS VEGAS, NV - JANUARY 08:  An attendee photographs a 5G logo display during a Qualcomm press event for CES 2018 at the Mandalay Bay Convention Center on January 8, 2018 in Las Vegas, Nevada. CES, the worlds largest annual consumer technology trade show, runs from January 9-12 and features about 3,900 exhibitors showing off their latest products and services to more than 170,000 attendees.  (Photo by David Becker/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menetapkan tahun 2021 menjadi perdana diresmikannya layanan 5G di Indonesia. Sejumlah tantangan menanti, mengingat pergantian tahun tinggal menunggu hari lagi.

Menurut Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi, adopsi 5G tidak perlu menunggu penyebaran akses 4G merata 100%. Sebab, konsep adopsi, kata Heru, tidak seperti itu.

Akan tetapi, untuk mengimplementasikan jaringan generasi kelima ini juga ada pekerjaan rumah yang tidak sedikit, terutama dari sisi regulasi yang menentukan di mana frekuensi 5G akan digelar.

"Kemudian standarisasi seperti apa, operator mana yang boleh selenggarakan 5G. Jadi, kalau mau mulai dimanfaatkan 5G tahun 2021, perlu ada percepatan regulasi," ujar Heru kepada detikINET.

Lebih lanjut, kata Heru, untuk memberikan layanan 5G, diperlukan alokasi frekuensi yang setidaknya harus minimal 100 MHz yang dibutuhkan.

"Kan frekuensi terbatas. Jadi, penggunaan frekuensi bersama bisa jadi pilihan. Tapi, RPP teknis UU Cipta Kerja yang bicara soal frekuensi sharing dan infrastruktur sharing perlu dipercepat dengan pembahasannya melibatkan stakeholders termasuk operator telekomunikasi, para ahli, kalangan kampus, tak ketinggalan ada vendor telekomunikasi," tuturnya.

Mantan komisioner BRTI ini melihat ekosistem terkini, mayoritas menggunakan spektrum C-Band, di mana sudah ada 136 operator di dunia pakai frekuensi tersebut. Untuk mmWave sudah ada 85 lisensi dikeluarkan, yang mana 24 operator yang membangun jaringan 5G di band 26-28 GHz.

Pemerintah sendiri saat ini baru memantapkan satu frekuensi 2,3 GHz dimanfaatkan untuk menggelar layanan 5G. Di frekuensi baru saja ada tiga operator seluler yang mendapatkan lelang masing-masing satu blok, yaitu Smartfren, Telkomsel, dan Tri.

"Untuk 2,3 GHz belum kelihatan ekosistemnya yang ajeg. Saya khawatir Indonesia salah langkah untuk menggunakan 2,3 GHz sebagai band 5G seperti ketika menetapkan 900 MHz untuk LTE. Perlu dipertimbangkan kembali keputusannya," kata Heru.

Heru mengungkapkan setidaknya tetap diperlukan 100 MHz dedicated dari frekuensi primer 5G. Misalnya, di Arab Saudi di mana 100 MHz menggunakan frekuensi TDD 3,6 GHz dan 20 MHz FDD di 700 MHz.

"Kita akan salah langkah dan 5G tidak akan berkembang. Kita pernah salah menetapkan 4G di frekuensi 900 MHz yang akhirnya tidak berkembang karena ekosistem tidak ada," pungkasnya.



Simak Video "Indonesia Bersiap Cicipi 5G pada 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/rns)