Senin, 28 Okt 2019 16:51 WIB

Bangun Jaringan di Daerah Terpencil Ibarat Bikin Startup

Fino Yurio Kristo - detikInet
Sinyal telekomunikasi di Maumere, NTT. Foto: XL Axiata Sinyal telekomunikasi di Maumere, NTT. Foto: XL Axiata
Maumere - Membangun jaringan di kawasan terpencil menghadirkan tantangan tersendiri, termasuk soal model bisnis. Pihak XL Axiata mengibaratkannya layaknya bikin startup, dimodali cukup besar di awal sebelum dapat memetik keuntungan.

Program Universal Service Obligation (USO) dilangsungkan oleh operator bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). Penentuan wilayah mana yang perlu mendapat jaringan USO berasal dari pemerintah daerah.



"Masukan datang dari pemda, mana daerah yang potensi perlu dicover. Kenapa operator tidak langsung ke sana, karena sangat jauh sehingga hambatan paling utama selalu dari sisi transportasi, lahan, dan power," kata Direktur Teknologi XL, Yessie D Yosetya di Maumere, NTT, Minggu (27/10/2019) malam.

"Program USO membantu pemda karena baik dari lahan, transportasi dan power disediakan oleh BAKTI, dan kita masuk membangun radionya," papar dia.

Dari sisi bisnis, daerah USO populasinya sedikit dan potensinya tentu tidak sebaik daerah kota besar. Tapi wilayah tersebut dianggap memiliki potensi di masa depan yang antara lain dipicu masuknya jaringan internet dalam program USO.

Sebagai dukungan buat operator, BAKTI akan menanggung semua biaya operasional USO selama beberapa tahun, sebelum nantinya pengelolaannya diserahkan sepenuhnya pada XL.

Diharapkan seiring waktu berjalan, ekonomi di daerah USO terus tumbuh dan operator bisa memetik hasilnya. Masuknya jaringan akan berdampak pada ekosistem seperti munculnya penjual pulsa dan SIM card sampai potensi ekonomi lainnya.

Bangun Jaringan di Daerah Terpencil Ibarat Bikin StartupFoto: XL Axiata


"Biaya operasional ditanggung BAKTI beberapa tahun baru kita ambil. Kita hitung sudah oke, jadi seperti startup dimodali dulu. Begitu masuk internet mungkin ada ekonomi baru, ada online shop, tourism, ekonomi akan berkembang dalam beberapa tahun," jelas Yessie.

Jadi berdasarkan hitungan XL secara bisnis, USO bisa dijalankan tanpa membebani perusahaan. Itu karena pada awalnya, banyak hal yang ditanggung oleh pemerintah dalam menjalankannya. Dananya berasal dari BHP frekuensi yang berasal dari operator.



"Yang menarik adalah semua operation ditanggung pemerintah selama 5 tahun, kita hanya menyediakan base station. Fasilitas lahan power, listrik, vsat oleh pemerintah sedangkan revenue di kita semua," sebut Marwan O. Baasir, Group Head Regulatory and Government Relations XL.

Yessie membocorkan capex atau belanja modal yang dikeluarkan oleh XL dalam program USO ini berada di kisaran Rp 150 miliar.

Simak Video "XL Axiata Getol Bangun Jaringan di Daerah Pelosok"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)