Tahun Ini Jumlah Telepon Spam Meningkat 300%

Tahun Ini Jumlah Telepon Spam Meningkat 300%

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Rabu, 19 Des 2018 11:45 WIB
Foto: Atsushi Tomura/Getty Images
Jakarta - Sebuah laporan menyebut jumlah telepon spam meningkat 300% secara global, meski sejumlah negara tercatat mengalami penurunan jumlah.

Laporan ini dikeluarkan oleh Truecaller, penyedia layanan caller ID, yang menyebut salah satu negara yang mengalami penurunan jumlah telepon spam adalah Amerika Serikat, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (19/12/2018).

Peringkat AS dalam jumlah telepon spam tadinya ada di posisi ke-2, namun kini menurun ke posisi ke-8. Dalam laporan Truecaller, pengguna telepon di AS rata-rata menerima 21 per bulan telepon spam pada 2017, dan pada 2018 menurun jadi 17 per bulan.

Penurunan ini mungkin ada kaitannya dengan upaya pihak berwajib untuk membongkar jaringan penelepon spam. Salah satunya sejumlah gugatan yang diajukan oleh Federal Trade Commission yang antara lain berujung pada denda sebesar USD 82 juta terhadap sebuah perusahaan.




Namun banyak negara lain yang tak seberuntung AS. Contohnya Brazil, yang menjadi negara dengan jumlah telepon spam terbanyak pada 2018 -- menurut Truecaller. Dalam laporan tersebut, pengguna Truecaller mendapat lebih dari 37 telepon spam setiap bulannya.

Telepon-telepon spam ini disebut paling banyak berasal dari operator telekomunikasi dan telepon yang terkait dengan pemilu. Sementara di posisi ke-2 ada India, yang pada 2017 menjadi negara dengan jumlah telepon spam terbanyak.

Menurut Truecaller, penggunanya secara total menerima 17,7 miliar telepon spam dari Januari sampai Oktober. Laporan ini mengategorikan telepon spam jika pengguna melaporkannya, atau bisa juga terdeteksi dari algoritma yang dipakai.

Perlu dicatat, laporan Truecaller ini hanya didasarkan dari pengguna aplikasinya. Artinya, angka sebenarnya bisa saja jauh lebih besar dari laporan yang dirilis oleh perusahaan tersebut.


(asj/krs)