Selasa, 03 Apr 2018 18:50 WIB

Perjuangan Warga Pedalaman Aceh Cari Sinyal Seharian

Agus Setyadi - detikInet
Foto: Agus Setyadi/detikINET Foto: Agus Setyadi/detikINET
Aceh - Warga Desa Melidi Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur hingga kini masih terbatas dalam hal komunikasi. Untuk jaringan seluler, mereka harus terlebih dulu naik ke sebuah bukit. Itupun belum tentu sinyal muncul.

Saban hari, warga pedalaman Aceh Timur ini ramai mengantre ke sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan 'bukit sinyal'. Lokasi ini terletak sekitar setengah jam dari perkampungan. Di sana, tak ada pohon tempat berlindung. Warga pun harus rela panas-panasan agar dapat sinyal.

Uniknya, hanya telepon genggam jadul yang mendapat sinyal. Smartphone Android maupun iPhone tidak bakalan menemukan sinyal sama sekali. Datang ke bukit sinyal, warga menaruh ponsel di atas kayu yang sudah dipersiapkan. Di lokasi, ada dua kayu yang dibuat khusus sebagai tempat menaruh telepon seluler.

Perjuangan Warga Pedalaman Aceh Nelpon, Cari Sinyal HP Hingga SehariFoto: Agus Setyadi/detikINET


Jika sudah ditaruh di sana, tidak boleh lagi dipegang. Sedikit saja bergoyang, sinyal langsung hilang. Jika sinyal didapat, warga berbicara dengan menghidupkan pengeras suara di telepon. Kadang, sedang asyik berbicara, tiba-tiba sambungan terputus karena sinyal hilang.

"Di sini sinyalnya lari-lari. Kadang dapat kadang tidak. Kalau mendung sampai sehari gak dapat, kadang kami pulang terus," kata seorang warga Desa Melidi, Salim (42) saat ditemui, Senin (2/4/2018).



Salim datang ke Bukit Sinyal untuk menelepon anaknya yang sekolah SMA di Kabupaten Aceh Tamiang. Agar dapat sinyal, Salim menunggu sekitar tiga puluh menit. Setelah tersambung, dia menanyakan keperluan anak serta kondisi kesehatan sang buah hati.

Perjuangan Warga Pedalaman Aceh Nelpon, Cari Sinyal HP Hingga SehariFoto: Agus Setyadi/detikINET


"Nelponnya kalau perlu misalnya jam 12 siang kita harus datang sebelum jam 12. Kadang belum tentu dapat jam 12. Kalau perlu cepat itu kadang tidak bisa," jelas Salim.

Salim rela panas-panasan di sana demi mendengar kabar sang buah hati. Kain sarung dipakai untuk menutup wajahnya agar terhindar dari sengatan mentari siang. Di desa ini, hanya warga di sana yang dapat menelpon sementara tidak dapat menerima telepon jika sudah turun dari Bukit Sinyal.



"Demi anak apa pun kita lakukan meski panas begini. Telepon seminggu sampai tiga kali, karena anak sekolah kadang butuh uang atau kebutuhan. Kalau uang berapa dapat itu kirim karena kita juga bukan orang mampu. Kita kirim dari sini sama orang, nanti kita telepon dia (anak) suruh ambil," ungkap Salim.

detikcom dua hari berada di desa ini dan merasakan hidup tanpa sinyal seluler. Ada empat desa di Kecamatan Simpang Jernih yang masih terbatas dalam hal komunikasi dan listrik. (rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed