Rabu, 30 Agu 2017 14:46 WIB

Tapal Batas

Kisah Satu Ponsel 'Kewarganegaraan Ganda'

Rachmatunnisa - detikInet
Patroli patok perbatasan TNI dan tentara Malaysia (Foto: Rachman Haryanto/detikcom) Patroli patok perbatasan TNI dan tentara Malaysia (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Entikong - Bolak-balik di antara dua negara adalah hal biasa bagi warga perbatasan. Begitu juga yang dialami warga perbatasan Indonesia-Malaysia di kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Ada yang bekerja, berdagang, berbelanja, atau sekadar mengunjungi sanak-saudara di negeri seberang. Kelancaran akses telekomunikasi pun diperlukan untuk menunjang aktivitas mereka.

Yang menarik, karena seringnya pergi pulang Indonesia-Malaysia, banyak di antaranya punya ponsel dengan 'kewarganegaraan ganda'.

"Kalau yang sering bolak balik macam pedagang itu biasanya mereka pakai dua SIM card operator Indonesia dan Malaysia," kata Anto, salah satu pedagang pulsa yang ditemui detikINET bersama tim Tapal Batas detikcom di pasar Entikong.

Kisah Satu Ponsel 'Kewarganegaraan Ganda'Pengunjung PLBN Entikong, Kalimantan Barat (Foto: Kurnia Yustiana/detikINET)


Bukan masalah nasionalis atau tidak, pilihan warga perbatasan menggunakan dua SIM card beda negara, disebutkan Anto semata karena alasan praktis dan lebih murah ketika harus berkomunikasi dengan nomor lokal di negara yang sedang mereka kunjungi.

Anto sendiri menjual SIM card operator Indonesia dan Malaysia di konter pulsa miliknya. Selain itu, seperti wilayah perbatasan lainnya di mana transaksi jual beli menggunakan dua mata uang negara lumrah terjadi, dia pun menerima transaksi uang rupiah maupun ringgit.

"Beli pulsa pakai rupiah atau ringgit kita terima. Pulsa Malaysia ada jual Maxis, Digi, tapi gak banyak. Orang lebih banyak pakai operator Indonesia kalau sedang di sini. Telkomsel orang paling banyak pakai," paparnya.

Ya, sementara tren sebagian pengguna ponsel di kota besar mendambakan fitur kamera ganda, warga perbatasan lebih tertarik dan bersyukur memiliki ponsel simcard ganda karena sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kisah Satu Ponsel 'Kewarganegaraan Ganda'Pengunjung Komplek Imigresen Tebedu, Malaysia (Foto: Kurnia Yustiana/detikINET)


"Satu ponsel ini saya pakai dua kartu, Maxis dengan Telkomsel. Memang rata-rata di sini pakai (ponsel) yang ada dua kartu karena sering pakai bolak balik sini ke sana (Indonesia-Malaysia)," kata Deri, salah satu warga Entikong yang ditemui di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN).

Di wilayah perbatasan, terjadinya roaming masih kerap dikhawatirkan. Hampir semua warga perbatasan pasti pernah mengalami terkena roaming, termasuk Deri.

"Pernah habis 2 GB itu hilang sekejap. Kemana nih pulsa hilang begitu saja, rugi saya padahal baru beli pulsa," kenang Deri seraya tertawa.

Dari para penjual pulsa, Deri diberitahu untuk mengubah pengaturan memilih operator secara manual. Dengan cara ini, pengguna bisa menentukan operator mana yang akan dipakainya dan terhindar dari roaming.

Namun menurut Deri, keluhan roaming kini sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu. Entikong termasuk wilayah yang jangkauan sinyal telekomunikasinya kuat, terutama di sekitar PLBN.

Kisah Satu Ponsel 'Kewarganegaraan Ganda'Penjual pulsa di Entikong (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)


"Sinyal kencang di sini. Kalau dulu cuma sampai patung Garuda situ. Sekarang sampai sekilo ke sana (sambil menunjuk gerbang perbatasan menuju Malaysia) masih kuat Telkomsel. Telepon, SMS, internet juga, lengkap," sebut Deri.

Penggunaan dua SIM card Indonesia dan Malaysia diakui Manager Branch Telkomsel Pontianak M Norhansyah memang lumrah terjadi di perbatasan, karena sesuai dengan kebutuhan warganya.

"Rata-rata pelanggan pakai dual SIM card, dua nomor itu kemungkinan satu untuk menelepon satu lagi buat data. Kecuali untuk daerah tertentu mereka pakai operator lain yang satunya. Tapi biasanya SIM card satunya Telkomsel," kata Norhansyah.

Di kabupaten Sanggau yang menaungi kecamatan Entikong, Telkomsel punya sekitar 300 ribu pelanggan. Di Entikong sendiri, jumlah pelanggannya ada 104 ribu. Untuk menunjang akses komunikasi para pelanggannya tersebut, Telkomsel terus menambah kapasitas jaringannya. Saat ini ada lima BTS 2G, 6 BTS 3G dan 2 BTS 4G untuk meladeni kebutuhan akses internet cepat di Entikong.


Kisah Satu Ponsel 'Kewarganegaraan Ganda'Foto: Telkomsel


"Ini memperlihatkan bagaimana kami membuktikan hanya Telkomsel yang melayani internet cepat lewat jaringan 4G yang sudah aktif di wilayah perbatasan, salah satunya di Entikong," ujarnya.

Kian ramainya pengunjung di kawasan perbatasan, baik dari Indonesia maupun Malaysia, kian memacu Telkomsel memperkuat jaringannya di wilayah tersebut, terutama untuk daerah-daerah yang masih terpencil.

Simak cerita lainnya dari wilayah perbatasan di Tapal Batas detikcom. (/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed