Kamis, 16 Jun 2016 16:44 WIB

Peluncuran Satelit BRI

Kominfo Akomodir Kebutuhan Lisensi Khusus Satelit BRI

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara berjanji akan mengakomodir kebutuhan lisensi telekomunikasi khusus bagi Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang akan segera meluncurkan satelit.

"Bagi saya persoalan lisensi itu bisa diatur. Yang penting bagaimana membuat masyarakat Indonesia happy dengan adanya layanan satelit dari BRI ini," ujarnya saat berbincang dengan detikINET.

Lisensi untuk telekomunikasi khusus atau telsus ini, memang tak bisa dikeluarkan di depan karena harus menunggu satelit diluncurkan terlebih dahulu. Setelah satelit mengudara, baru kemudian dilakukan uji laik operasi (ULO).

"Izin telsus untuk BRI ini setelah naik dulu, baru keluar izin ULO. Gampang kok prosesnya. Kalau sekarang, apa dulu yang mau di-ULO, barangnya saja belum ada," ulas menteri yang akrab disapa Chief RA itu dengan santai.

Izin telekomunikasi khusus yang dimaksud, hampir dipastikan dalam genggaman BRI. Namun masalahnya, proses ULO belum bisa dilakukan karena minggu lalu masih ada penundaan peluncuran satelit BRIsat ini.

Langkah Arianespace mengumumkan penundaan peluncuran BRIsat karena terdapat anomali pada satu fluid connector di roket peluncur dianggap hal yang biasa dalam proses peluncuran sebuah satelit.

"Itu lumrah dan normal dilakukan. Kalau dari inspeksi ada salah satu unit tak yakin, biasanya diambil langkah penundaan ini," ungkap Tonda Priyanto yang telah lama malang melintang di bisnis satelit.

Menurutnya, keputusan penundaan juga tak bisa dilepaskan dari keinginan Arianespace menjaga reputasinya yang jarang gagal dalam peluncuran sebuah satelit.

"Arianespace ada reputasi dan harus dipertahankan. Ini semua masih menjadi tanggung jawab dari Arianespace karena satelit belum lift off," kata Tonda yang lama jadi petinggi asosiasi satelit di Indonesia.

Sebelumnya, Arianespace mengumumkan BRIsat yang seharusnya meluncur pada 8 Juni 2016 (waktu Kourou, Guyana Perancis) diubah menjadi 16 Juni 2016 (waktu Kourou, Guyana Prancis) atau 17 Juni 2016 WIB atau 8 hari dari tanggal peluncuran semula, setelah melakukan penggantian konektor cairan antara kriogenik bagian atas roket Ariane 5 dengan landasan peluncuran landasan peluncur ELA-3.

BRI sendiir menegaskan tidak mengalami kerugian lantaran ditundanya peluncuran tersebut. Direktur Utama BRI Asmawi Syam menjelaskan, satelit masih menjadi tanggung jawab Space System/Loral (SSL) sebagai pembuat satelit dan belum diserahkan ke pihak BRI.

"Saat peluncuran ini belum serah terima ke BRI, akan ada dua stage lagi, orbit antara 10 sampai 12 hari, ada fase kedua handover, ini yang dikatakan sudah milik BRI, jadi tidak ada kerugian," jelasnya.

"Kami menghargai upaya yang ditempuh Arianespace, sehingga kendala teknis bisa diatasi dengan tetap mengutamakan aspek keamanan. Dan sekali lagi, kami memohon doa restu, semoga peluncuran BRIsat yang akan datang berjalan lancar sehingga BRIsat bisa membawa manfaat untuk negeri," pungkas Asmawi. (rou/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed