Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Dirut Smartfren Curhat Beratnya Tantangan 4G

Dirut Smartfren Curhat Beratnya Tantangan 4G


Adi Fida Rahman - detikInet

Dirut Smartfren Merza Fachys. (rou/detikINET)
Jakarta - Seluruh operator telekomunikasi di Indonesia kini tengah mengelar layanan 4G LTE. Dalam adopsi jaringan generasi keempat ini, Smartfren mengaku mendapat tantangan lebih berat ketimbang operator GSM.

Direktur Utama Smartfren Merza Fachys mengatakan, jaringan 4G membuat pihaknya seperti reborn. Pasalnya, ketika masuk 4G, teknolgi CDMA harus ditinggalkan Smartfren. Sementara GSM 2G dan 3G masih bisa digunakan kapanpun.

"Ada pula yang berbeda saat Smartfren masuk ke 4G. Dalam masa transisi ini, kami masih hidup dengan CDMA dan 4G," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Merza, saat hidup di 'dua alam' secara bersamaaan tantangannya tidak sedikit. Pertama mereka harus menghadapi regulasi baru agar pengembangan 4G selesai. Belum lagi tuntutan soal efesiensi industri.

Lalu pihaknya harus menghadapi perbedaan pendekatan. Dimana operator GSM hanya memigrasikan jaringan. Sementara Smartfren tidak hanya memigrasikan jaringan, tapi juga pelanggan.

"Tugas kami harus memigrasikan pelanggan. Karena pelanggan di rumah lama harus didorong ke rumah baru. Migrasi ini punya hambatan di teknologi dan kultur," ujarnya.

Meski terasa berat, kata Merza, pihaknya optimistis dapat merampungkan persoalan tersebut tahun depan.

Bicara mengenai perusahaan digital, Merza mendukung operator bertransformasi ke arah sana. Hanya saja, jangan sampai semua operator menjadi penyedia Digital Network Application (DNA), karena akan memberatkan. Terpenting operator menjadi enabler ekonomi dengan menyediakan jaringan dan layanan digital.

Merza melanjutkan bila mana operator hanya menyediakan pipa atau jaringan saja. Butuh cara agar penyedia jaringan bisa untung, salah satunya lewat berbagi infrastruktur.

"Cara ini dapat mengefisiensikan industri. Biaya kilobyte menjadi murah, penyediaan jaringan dan aplikasi akan lebih untung. Pemain device juga untung," paparnya.

Pun demikian, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sejatinya punya harapan besar terhadap Smartfren. Ia yakin Smartfren akan lebih berhasil bertransformasi ketimbang operator lain terkait perubahan dari operator menjadi perusahaan digital.

Pria yang kerap disapa Chief RA ini beralasan operator lain merupakan perusahaan legacy. Sementara menurutnya, untuk menjadi perusahaan digital bukan berangkat dari operator legacy.

"Softbank itu berangkatnya bukan dari operator legacy. Di Indonesia yang punya kesempatan itu adalah Smartfren, karena langung lari ke 4G. Memang mereka punya legacy di CDMA, tapi jumlahnya kecil. Tinggal dimatikan saja, gampang," pungkas Rudiantara di acara diskusi '4G, What's Next?' yang berlangsung di Jakarta, Senin (7/12/2015).

(afr/ash)







Hide Ads