Hal tersebut diamini oleh Stephanie Huf, Head of Marketing & Communication Industry and Society Ericsson saat ditemui dalam diskusi terbatas di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Senin (8/6/2015). Menurutnya, keberadaan smart city dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat.
"Pada akhirnya smart city dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sebab tidak hanya sektor perekonomian, tapi dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan," ujarnya.
Saat ini, kata Stephanie, Indonesia dan hampir semua negara di dunia memiliki penduduk yang hidup di perkotaan. Hasil survei yang Ericsson lakukan, 70% penduduk dunia hidup di perkotaan. Prosek ekonomi menjadi faktor utama banyaknya penduduk memilih perkotaan sebagai tempat tinggalnya.
Dikatakan olehnya, kondisi tersebut akan menciptakan berbagai tantangan. Dibutukan inovasi agar kota semakin produktif, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi informasi komunikasi (ICT) lewat Smart City.
"Untuk menciptakan smart city, kita tidak bisa bekerja sendiri, harus saling bekerja sama dengan banyak pihak Ericsson ingin berbagi inisiatif guna membentuk masa depan yang lebih baik di perkotaan," ujar wanita asal Australia ini.
Ditempat yang sama, Patrik Regardh, Head of Stategic Marketing for The Ericsson Group memaparkan Jakarta berada di peringkat 34 dalam index Networked Society City.
Jakarta memiliki performa ICT lebih baik di banding Triple Bottom Line (TBL) yang turut menjadi penilaian pada proses pengindeksan. TBL tersebut meliputi sosial, ekonomi dan lingkungan. Meski nilai ICT Jakarta baik, kata Patrik, terkait infrastruktur dan penggunaan teknologi masih belum memuaskan.
"Infrastruktur broadband masih kurang, baik dari segi kualitas maupun akses. Selain itu, penetrasi smartphone masih rendah. Hal ini akan menjadi tantangan untuk menciptakan kota yang berkelanjutan," pungkasnya
(rou/rou)